M’Baye Niang: Dulu Dibuang, Kini Disayang

Published On 15/01/2016 | By Kontributor Medio Club | Hot Shot

“Dia menyisir sisi kiri, kanan, mengambil ancang-ancang…TIPIS MELEBAR!!” M’Baye Niang tiba-tiba menjadi sorotan setelah dirinya tampil impresif bersama AC Milan musim ini. Pemain asal Perancis tersebut sebenarnya bukanlah wajah baru di I Rossoneri -julukan AC Milan- ataupun Serie-A, namun 2015/16 menjadi spesial baginya karena Mihajlovic memberikan ruang untuknya membuktikan diri.

Sejak bergabung dengan AC Milan di musim panas 2012, Niang telah diarahkan oleh tiga pelatih Merah-Hitam, tapi baru Sinisa Mihajlovic yang memberikan kepercayaan kepada penyerang berdarah Senegal satu ini. Sebelumnya, Massimiliano Allegri, sosok yang memboyong Niang ke San Siro hanya menggunakan Sang pemain sebagai pelapis tim utama. Sementara Inzaghi hanya memberikan lima kesempatan kepada Niang sebelum diasingkan.

Perumpaan populer, “Orang sabar, disayang Tuhan”, berlaku dalam perjalanan karir Niang. Lihat betapa banyak pemain-pemain muda AC Milan yang gagal bersinar di Kota Mode karena mereka merasa kurang diberi kesempatan. Bagi M’Baye Niang, menimbah ilmu di klub lain merupakan kesempatan yang ia punya untuk membuktikan kualitas dirinya.

Gagal direkrut Arsene Wenger | PHOTO: Foot 01

Gagal direkrut Arsene Wenger | PHOTO: Foot 01

Gagal mendapatkan tempat di tim binaan Pippo –panggilan Inzaghi-, Niang dipinjamkan ke Genoa. Setengah musim berada di Genoa, Niang langsung menjadi salah satu pemain kunci Gian Piero Gasperini, dan membantu rival Sampdoria tersebut mengakhiri musim di posisi enam kelasemen Serie-A dengan catatan lima gol dan mengarsiteki dua lainnya. Pencetak gol termuda kedua I Rossoneri di ajang Copa Italia tersebut kini telah menyamai rekor pribadinya musim lalu bersama AC Milan.

Talenta M’Baye Niang memang sudah terlihat sejak muda, mengawali karir bersama Caen, saat masih berusia 13 tahun. Ia mencatatkan hat-trick saat melakoni tes masuk, melihat hal itu Caen langsung bergegas mengamankan bakatnya dari kejaran Manchester City, Juventus, hingga Tottenham.

Melakoni debut saat berusia 16 tahun, salah satu pelatih akademi Caen saat itu, Philippe Tranchant mengaku tak pernah melihat pemain seperti M’Baye Niang, meski ia juga bertanggung jawab atas keberhasilan Yoann Gouffran, dan Matthieu Bodmer. Sayangnya, potensi luar biasa yang dimiliki Niang belum mampu menyelamatkan Caen dari degradasi pada saat itu.

Seperti efek bola salju, penampilan gemilangnya mengundang perhatian banyak klub. Salah satu diantaranya adalah Arsenal, lumrah rasanya bagi Arsene Wenger menginginkan Niang. Ia selalu mengincar talenta muda dari Perancis, tapi kali ini upaya Sang Professor berhasil dikalahkan oleh AC Milan.

Selamatkan Montpellier dari degradasi | PHOTO: Mlactu

Selamatkan Montpellier dari degradasi | PHOTO: Mlactu

Tugas pertama Niang bersama AC Milan adalah melapisi pemain-pemain senior yang menjadi pilihan utama Allegri, namun tak lama setelah itu ia diberi tugas lebih oleh pihak klub. Niang diminta untuk pulang ke Perancis guna menyelamatkan Montpellier dari degradasi, sesuatu yang gagal ia lakukan semasa masih di Caen.

Meski kalah di tiga laga terakhirnya, Niang sukses memberikan empat poin krusial untuk Montpellier yang akhirnya mengangkat mereka ke posisi 15 dengan 42 poin di akhir musim. Montpellier hanya unggul dua poin dari Sochaux yang terdegradasi, tanpa Niang, Cabella dan kawan-kawan dipastikan turun ke Ligue 2.

Setelah dipinjamkan ke Montpeiller, Niang kembali dipinjamkan Milan ke Genoa karena tidak mendapatkan tempat dalam racikan Inzaghi. Bersama Genoa, Niang mulai belajar bagaimana seharusnya bermain di Serie-A.

Berbeda dengan saat di Montpellier, Gasperini tidak menjadikan Niang sebagai ujung tombak, namun ia dipercaya untuk menyisir sisi lapangan guna mempercantik skema 3-4-3 Genoa. Berkat Gasperini, kita dapat melihat kemampuan Niang yang sebenarnya seperti saat ini.

Kecepatan tinggi, kemampuan olah bola di atas rata-rata, visi permainan, kekuatan fisik, dan keberanian menghadapi lawan satu per satu telah diperlihatkan Niang bersama Genoa. M’Baye Niang akhirnya pulang ke San Siro sebagai pemain matang, dan siap membela AC Milan.

Sialnya ia mengalami cedera di awal musim dan harus kembali menunggu, beruntung Mihajlovic menggunakan formasi 4-3-3, sehingga saat Niang pulih, dirinya bisa langsung mendapatkan tempat di sayap.

Totalitas Mbaye Niang | PHOTO: Liputan 6

Totalitas M’Baye Niang | PHOTO: Liputan 6

Bersama AC Milan, Niang menyempurnakan kemampuan terbaiknya yang ia temukan saat membela Genoa. Ia lebih sering melepaskan tendangan dari sudut sempit sehingga tidak banyak membuang waktu untuk menusuk ke kotak penalti. Selain itu Niang juga lebih menggunakan fisiknya dengan intelijensi.

Keputusannya untuk menceploskan bola dari pinggir mungkin membuat tendangannya lebih banyak yang melebar, akan tetapi itu bukanlah sebuah masalah bagi Niang ataupun AC Milan.

Bersama Bonaventura, dan Abate, Niang sukses menghidupi permainan AC Milan dan memberikan bola-bola matang kepada rekan satu timnya di kotak penalty. Entah itu Bacca, Luiz Adriano, ataupun pemain dari lini kedua, akan sangat mudah bagi mereka melanjutkan umpan tarik Niang. Bahkan terkadang mereka hanya tinggal berdiri di depan gawang untuk mengklaim terobosan Niang di mulut gawang.

Raihan gol Niang mungkin lebih rendah dibanding Carlos Bacca, Bonaventura ataupun Luiz Adriano, tapi ia adalah pemecah kebuntuan AC Milan musim ini. Bahkan dibanding tiga nama di atas, hanya Bacca (42.10%) yang memiliki rataan konversi gol lebih baik dibanding Niang (25%), Bonaventura (22.2%) dan Luiz Adriano (16.7%).

 

BY: Ahmad Rezky Sungkar / @achmadrezky

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *