Marquee, Judi Terbesar Australia

Published On 14/03/2016 | By Rockin Marvin | Opini Ngehek

Liga domestik sering kali menjadi cerminan tim nasional sebuah negara, jika mereka memainkan kompetisi secara reguler dan memaksimalkan pesepakbola lokal, nan muda, identitas komunitas pendukung akan terbentuk, dan bidang ekonomi negara akan terbantu penjualan tiket dan pemain.

Hal inilah yang diinginkan Federasi Sepak Bola Australia (FFA) dengan merancang sebuah rencana empat tahunan pekan lalu. Mereka melihat kesuksesa Major League Soccer (MLS) dan ingin menerapkan cara serupa untuk menjual industri sepak bola Australia.

FFA siap membantu klub-klub peserta A-League untuk meningkatkan kualitas mereka dengan pendanaan marquee player. Aturan ini sama dengan designated player MLS yang memungkinkan setiap tim mendaratkan pemain bintang seperti Robbie Keane, Thierry Henry, dan Ricardo Kaka.

Kurang menjual | PHOTO: NBN News

Kurang menjual | PHOTO: NBN News

MLS memberi ruang bagi setiap klub untuk mendatangkan seorang designated player yang gajinya di atas rata-rata pemain lain, dan sebagian diantaranya dibayar oleh badan liga. Konsep inilah yang ingin diadopsi FFA untuk marquee player di Australia.

Kebijakan marquee player di Australia sebenarnya sudah diterapkan sejak musim 2005/06, tapi hingga saat ini FFA tidak terlibat dalam pendanaan pemain sehingga hanya beberapa klub saja yang mampu mendatangkan pemain-pemain bintang ke Negeri Kanguru.

Kini FFA ingin membantu setiap klub untuk mendatangkan pemain berstatus marquee dan didanai oleh pihak asosiasi. Stephen Lowy selaku presiden FFA mengatakan hal ini adalah salah satu kepingan penting dalam proyek A-League 20 tahun ke depan.

FFA berharap kebijakan ini bisa meningkatkan nilai jual A-League yang berujung pada dana hak siar secara global dan pamor international.

“Tujuan utama strategi empat tahun ini adalah hak siar dan kerjasama komersial, yang merupakan fondasi bagi ekonomi sepak bola di seluruh dunia,” katanya seperti dikutip dari Guardian.

CEO FFA, David Gallop menekankan nilai jual marquee player A-League karena investasi yang mereka lakukan sangatlah besar. Mereka yang didatangkan FFA harus bisa menarik suporter, dan televisi.

“Kami akan menginvestasikan uang jutaan untuk mendatangkan mereka.”, Ungkap Gallop.

Investasi ini tentu diharapkan dapat dikembalikan dengan kenaikan hak siar tahun depan, tapi Gallop seakan lupa bahwa kebijakan marquee player sudah ada sejak 11 tahun yang lalu, dan nama-nama yang didatangkan juga bukan sembarang orang.

Jaushua Sotirio masa depan Australia | PHOTO: A-League

Jaushua Sotirio masa depan Australia | PHOTO: A-League

Mulai dari William Gallas, Dwight Yorke, Emile Heskey, Alessandro Del Piero, Robbie Fowler, David Villa hingga legenda Brazil, Romario pernah menyandang status ini di Australia, tapi A-League tetaplah dipandang sebelah mata.

Sama seperti MLS, dana yang diberikan FFA kemungkinan besar hanya dapat mendatangkan pemain-pemain veteran, dan mengurangi tempat pemain-pemain muda seperti Andrew Hoole dan Jaushua Sotirio.

Padahal pemain-pemain muda tersebut adalah nilai jual tersendiri dari A-League yang memiliki rata-rata pemain berusia 25,8 tahun. Termuda kedua di Asia setelah Iran Pro League.

A-League saat ini juga sudah dihuni beberapa nama  mendunia seperti Matt McKay, Luis Garcia, Besart Berisha, dan Diego Castro. Apakah mereka masih perlu membantu peserta A-League untuk merekrut seorang marquee player untuk meningkatkan nilai jual liga ?

“Kebijakan pemain marquee hanya menunjukan kemalasan dari klub dan FFA untuk ‘menjual’ pemain yang sudah ada sekarang.”, Ungkap pengamat sepak bola Australia, Andy Harper.

Semut diseberang lautan terlihat, namun tidak gajah dipelupuk mata, begitulah kondisi FFA saat ini. Mereka lupa bahwa perbedaan terbesar antara A-League dan MLS begitu ketara.

MLS cocok untuk CR7 | PHOTO: Team Talk

MLS cocok untuk CR7 | PHOTO: Team Talk

Berada di Amerika Serikat, negeri adidaya dunia, media mereka selalu menjadi panutan negara-negara lain. Berkat hal ini, MLS berhasil mengekspos liga mereka dengan sangat baik. Liga tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menarik perhatian media lokal yang diakses seluruh dunia.

Pesepakbola di MLS juga tidak sekedar atlet, mereka hidup layaknya publik figur, meski masih kalah dibandingkan pemain basket, american football ataupun baseball.

Frank Lampard yang kini membela New York City FC bahkan mengatakan Cristiano Ronaldo akan sangat cocok bermain di MLS karena gaya hidupnya.

“Kita tahu bahwa Cristiano bukan hanya seorang pesepakbola, tapi juga selebritis dan sosialita.”

Bandingkan dengan Australia, di mana pemberitaan sepak bola di media lokal masih sangat minim ketimbang kriket atau rugby. Asia juga memiliki kendala tersendiri untuk membuat sepak bola mereka diterima layaknya MLS. Masalah bahasa adalah satu hal, tapi bukan hanya itu.

Tim Cahill pernah memberi peringatan khusus kepada pemain-pemain yang ditawari kontrak oleh klub Tiongkok karena ia tahu betapa sulitnya beradaptasi di Negeri Tirai Bambu. Hasil dari Tiongkok juga baru terlihat akhir-akhir ini meski sudah dilakukan sejak Vagner Love, Seydou Keita, dan Anelka datang.

Suporter vs FFA | PHOTO: ABC

Suporter vs FFA | PHOTO: ABC

Sadarkah FFA bahwa masalah utama mereka ada di pihak asosiasi ?

Pendanaan marquee player mungkin akan meningkatkan kualitas liga, tapi jika FFA masih membatasi hak suporter di stadion, apakah satu-dua bintang veteran akan membawa mereka kembali ke tribun ?

Dana besar asosiasi untuk mendatangkan pemain asing berlabel bintang belum tentu menjadi jaminan mereka akan mencapai target. Pemberitaan minim dari media lokal menjadi ancaman untuk pendapatan hak siar, kebijakan FFA terhadap para suporter membuat stadion sepi, dan pemain asing bisa menghilangkan tempat talenta lokal yang sebelumnya menjadi andalan klub dan tim nasional.

Berjudi dengan tujuh digit bukanlah hal bijak, tapi jika mereka berhasil memaksimalkannya, ‘menang’ adalah kata yang terlalu rendah untuk mendeskripsikan kesuksesan FFA. Beranikah mereka ?

Like this Article? Share it!

About The Author

FC Barcelona & Newcastle United supporter. Author El Llibre del Barca & 50 Derby Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *