Kutukan Lampu Sorot Sepak Bola

Published On 25/03/2016 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Pesepakbola mana yang tidak ingin menjadi pemain bintang ? Rasanya sangat sulit untuk menyebutkan banyak nama terkait hal ini kecuali kapten Margate FC, David Hunt. Hampir semua pemain ingin untuk berada di bawah lampu sorot, tapi tidak semua bisa meraihnya.

Bagi pemain-pemain asal Inggris, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Brazil, Argentina, Chile atau mayoritas negara Eropa dan Amerika Selatan, akan sangat sulit untuk meraih lampu sorot tersebut. Sementara itu, negara-negara lain seperti Estonia, Liberia, Malta, atau Curacao, menjadi bintang-pun belum tentu menempatkan kita di lampu sorot dunia sepak bola.

Menjadi bintang di negara dengan kultur sepak bola yang rendah seperti di atas bagai pedang bermata dua. George Weah (Liberia), Michael Mifsud (Malta), Kemy Agustien (Curacao), hingga Dieumerci Mbokani (DR Congo) sudah pasti mendapatkan tempat di tim nasional masing-masing.

Lebih dari itu, mereka akan menjadi panutan berbagai generasi di negaranya karena telah sukses berkembang di dunia sepak bola.

Tak tanggung-tanggung, pemain seperti Cha Bum-Kun atau Pierre-Emerick Aubameyang telah membuat Korea Selatan dan Gabon mulai memandang sepak bola sebagai olah raga utama.

Screen shot

Tsubasa bukan alasan | PHOTO: Print Screen

Namun di sisi lain, Si Pemain akan menerima beban berat untuk memenuhi ekspektasi warga, seperti melihat negara mereka tampil di Piala Dunia bermodalkan satu-dua pemain bintang. Padahal ada sebuah ungkapan populer yang menyatakan hal ini sangat sulit untuk terjadi.

“Seorang pemain berkualitas akan ikut turun kelas jika disandingkan dengan rekan yang payah, sementara pemain payah bisa menunjukkan kualitasnya jika ia berada di lingkungan berkelas.”

Istilahnya, Nankatsu hebat bukan karena memiliki Tsubasa, tapi karena dia dididik oleh mantan pemain tim nasional Brazil, Roberto Hongo, dan dibantu pemain-pemain bertalenta pindahan Shutetsu.

Dalam serial “Captain Tsubasa”, pemain bernomor punggung 10 satu ini nampak sebagai perekat tim, sayangnya itu hanyalah cerita fiktif yang terlalu ideologis. Realitanya, pemain bintang bisa menjadi batu sandungan karena merasa dirinya lebih hebat dibanding rekan satu tim. Jangankan di sebuah negara yang tidak terlalu mementingkan sepak bola, hal ini bahkan terjadi juga dalam lingkup klub berprestasi dunia.

Merupakan tugas utama pelatih untuk meredam ego pemain bintang di tim nasional, karena jika ia gagal melakukan hal tersebut, jangan berharap bisa meraih kesuksesan di sepak bola. Adanya peringkat mereka di FIFA akan terus menurun, sebelum akhirnya tenggelam.

Angkat nama Kamerun | PHOTO: The Football Mind

Angkat nama Kamerun | PHOTO: The Football Mind

Roger Milla pernah mengatakan: “Football makes small countries big.

“Sepak bola menjadikan sebuah negara kecil, menjadi besar.”, Ungkapan itu tidak salah. Milla mengembangkan sektor sepak bola negaranya, Kamerun dari era 70-an, hingga kini memiliki pemain berkualitas. Eto’o, Kameni, Alex Song, hingga Eric Maxim Choupo-Moting.

Sejak Milla mengenakan seragam tim nasional, Kamerun mulai peduli akan sepak bola, dan mencatatkan prestasi, terutama di Afrika, dengan empat piala Africa Cup of Nations ((1984, 1988, 2000, 2002), tapi nyatanya mereka gagal berbuat banyak di ajang Piala Dunia.

Tujuh kali lolos ke turnamen sepak bola terbesar di muka bumi, Kamerun lebih sering menjadi pelengkap dengan kebobolan 43 gol dari 23 pertandingan yang mereka jalani.

Lebih miris lagi, kini pemain bintang di negara-negara yang tidak terlalu memandang sepak bola sebagai olahraga utama mereka lebih memilih untuk ‘menjual pemain’ untuk mendatangkan kucuran dana besar dari pihak sponsor. Indonesia ? Tidak ingin menyebut negara kita tercinta sebagai salah satunya, biarlah itu menjadi rahasia umum di NKRI, lagipula sepak bola merupakan salah satu olahraga prioritas di sini, tapi…

Negara kita itu peduli atau tidak ya ? Secara kultur, sepak bola sudah mengakar di bangsa, bahkan menjadi salah satu bentuk perjuangan melawan menjajah, tapi kenapa pengaturanya berkata lain ya ?

Ah sudahlah.

Thailand saja bisa menatap Piala Dunia, kita juga pasti akan melakukan hal yang sama, entah kapan.

 

BY: Imam Santoso / @idsantos_94 

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *