Hari Raya Bukan Alasan untuk Sepak Bola Wanita

Published On 09/03/2016 | By Rockin Marvin | Opini Ngehek

Nama Marta (Brazil), Alex Morgan (Amerika Serikat), dan Louisa Necib (Perancis) di dunia sepak bola wanita, sayangnya, mereka masih belum dapat menghapuskan paham “machoisme” dari lapangan hijau. Sepak bola wanita menjadi hal wajar di mata penikmat masa kini, tapi tak jarang juga motivasi mereka menyaksikan pertandingan itu untuk ‘cuci mata’.

Belum lagi jika ditambahkan keberadaan Lingerie Football League di Inggris.

Meski sudah menunjukkan eksistensinya, dunia sepak bola tetaplah didominasi para pria, dan wanita dilihat tak lebih dari paras dan potensi marketing mereka.

Hingga saat ini, masih banyak yang beranggapan jika sepak bola bukanlah untuk wanita. Lihat saja bagaimana seorang presenter salah satu televisi Inggris diserang penduduk dunia maya karena melancarkan kritik kepada penyerang Barcelona, Lionel Messi. Kata “dapur” dan “kasur” berterbangan, padahal sejatinya sepak bola adalah adopsi dari olahraga rugby.

Permainan keras dengan mengandalkan adu fisik.

Tidak ada penelitian yang mengatakan jika wanita tidak bisa melakukan kontak fisik. Baik itu pria atau wanita, kita sama-sama manusia, dan hanya dibedakan oleh jenis kelamin. Andai mereka memiliki kemampuan olah bola, dan sesuai dengan standard sebuah klub atau tim nasional, wanita juga layak bermain sepak bola.

Itu tidak melanggar kodrat!

Mengalahkan RVP & Zlatan | PHOTO: Daily Mail

Mengalahkan RVP & Zlatan | PHOTO: Daily Mail

Nyatanya, dunia sepak bola wanita telah berkembang pesat. Piala Dunia Wanita sudah diadakan sejak 1991, FIFA juga memberikan ruang untuk pesepakbola wanita bersaing dengan pemain-pemain pria untuk memperebutkan gelar Puskas Award di rangkaian acara Ballon d’Or.

Meski belum ada pemenang gol terbaik dari sepak bola wanita, nama-nama seperti Heather O’Reilly, Olivia Jimenez, Lisa De Vanna, dan Carli Lloyd masuk nominasi untuk bertarung dengan Ibrahimovic, Neymar, dan lain-lain. Pada 2014, pemain asal Republik Irlandia, Stephanie Roche keluar sebagai juara dua Puskas Award. Roche hanya kalah sembilan persen dari pemenang saat itu, James Rodriguez.

Jika sebuah gol dinilai dari proses, teknik, dan ke-krusial-annya untuk meraih Puskas Award, bayangkan bagaimana Roche bisa mengalahkan van Persie, Diego Costa, Ibrahimovic, dan Tim Cahill dalam hal ini.

Thailand pernah menang di ajang Piala Dunia | PHOTO: Korea Times US

Thailand pernah menang di ajang Piala Dunia | PHOTO: Korea Times US

Beberapa negara seperti Amerika Serikat, dan Norwegia, sepak bola wanita lebih memberikan kontribusi ketimbang para pria di cabang yang sama.

Kita mungkin bisa mengatakan bahwa level kompetisi sepak bola wanita tidaklah sekompetitif pria. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi jika melihat sejarah Piala Dunia Wanita, sejak digelar pada 1991, sudah ada 32 negara yang ikut serta dalam kompetisi tersebut. Padahal ajang ini baru diadakan tujuh kali, ekspansi 24 peserta juga merupakan kebijakan yang masih berusia satu tahun.

Bandingkan dengan Piala Dunia ‘klasik’ yang sudah terjadi 20 kali tapi hanya diisi oleh 77 negara, termasuk yang sudah dibubarkan, dan pecahannya.

Untuk membantah stigma sekaligus mengembangkan sepak bola wanita, FIFA telah merumuskan progam-program solusi pengembangan yang akan mereka terapkan hingga 2018. Dalam perumusannya, FIFA tak bekerja sendiri, tapi juga dibantu oleh para pemain, wasit, pelatih.

Kemarin, Indonesia merayakan Hari Wanita Internasional, dan di saat bersaamaan, FIFA juga mengadakan konfrensi terkait sepak bola kaum Hawa. Dalam pertemuan tersebut, mereka mendiskusikan tentang kepemimpinan serta suara wanita di sepak bola.

Tahun lalu mereka juga mengadakan acara serupa dan telah merumuskan sembilan program. Salah satunya adalah “Live Your Goals“, program ini diharapkan menginspirasi wanita untuk berperan di dunia sepak bola.

Tahun ini, mereka merumuskan program lanjutan serta memperkuat kedudukan dalam sepak bola. Berperan bukan hanya duduk dalam rapat, atau mencatatkan namanya sebagai direksi, ofisial, pelatih, dan pemain, tapi juga berani menggunakan suara mereka untuk perubahan.

Corinne Diacre, manajer wanita kedua Clermont | PHOTO: SoFoot

Corinne Diacre, manajer wanita kedua Clermont | PHOTO: SoFoot

Michael Kimmel, Profesor Sosiologi dan Jenis Kelamin, mengatakan bahwa olahraga adalah satu cara seorang pria mengkonfirmasi maskulinitas mereka. Olahraga, bukan hanya sepak bola.

Kimmel juga memperjelas keadaan lain, sebaliknya, jika seorang wanita menyukai olahraga, masyarakat menganggap mereka tidak feminim.

Menurut Kimmel, ada sebuah stigma bahwa olahraga adalah sesuatu yang diciptakan untuk pria, dan itu bukanlah pemikiran yang salah. Ia memberi contoh dengan sebuah audisi orkestra, di mana saat juri melihat peserta mereka, mayoritas orang yang lolos adalah pria.

Saat mereka menutup pandangan dengan dengan layar, agar peserta audisi tak terlihat, hasilnya rata. Baik pria dan wanita masuk ke dalam tim secara seimbang.

“Give credit where credit’s due”

Inilah alasan mengapa Corinne Diacre, mantan pesepakbola wanita asal Perancis bisa menjadi manager klub pria seperti Clermont Foot di divisi dua, Ligue 2.

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, pernah mengatakan bahwa masa depan sepak bola tergantung pada peranan wanita. Hal itu ia utarakan pada saat final Piala Dunia 1998, dan banyak orang yang tidak mempercayai hal itu. Kini, meski Sepp dikenal dengan ulah konyol dan kontroversialnya, setidaknya pernyataan itu jadi sesuatu yang benar.

Sepak bola wanita akan menjadi alternatif saat cabang pria ‘impoten’. Mantan juara Olimpiade, Donna de Varona menceritakan bagaimana sejarah Perang Dunia I memperlihatkan bahwa sesungguhnya wanita bisa, layak dan ‘menjual’ di dunia sepak bola.

Saat itu mereka bekerja di pabrik saat para pria ikut perang, dan wanita mulai mencoba sepak bola, dan dalam 67 pertandingan semusim, kompetisi itu mencatatkan 900.000 penonton. Sayangnya, saat para pria sudah kembali dari perang, wanita ikut meninggalkan lapangan untuk berada di rumah.

Setidaknya cerita itu cukup untuk mengatakan bahwa sepak bola tidaklah dibatasi oleh jenis kelamin. Wanita juga bisa bermain sepak bola layaknya pria, bukan sekedar untuk ‘cuci mata’.

AW: Udah 2016 coy! | PHOTO: Garnnett-cdn

AW: Udah 2016 coy! | PHOTO: Garnnett-cdn

Niat FIFA memperjuangkan kesetaraan perlu kita apresiasi, sayangnya masih banyak kendala yang mereka hadapi untuk mencapai hal ini. Ejekan seksis, pelecehan, dan lain-lain.

Legenda sepak bola Amerika Serikat yang menjadi peserta diskusi dalam konfresi pagi mengatakan hal ini adalah masalah paling klasik dan sebenarnya sudah tidak perlu dibicarakan lagi.

“Menurut saya ini gila, kita masih membicarakan hal seperti itu di 2016.”

“Era seperti sekarang seharusnya kita sadar bahwa masing-masing individu memiliki peluang yang sama.”

“Kita mungkin berbeda, tapi memiliki tujuan yang sama, dan itu seharusnya cukup.”, Ujar Wambach.

Saat ini mungkin sepak bola wanita masih membutuhkan investasi dan kesabaran lebih untuk membuahkan hasil. Bahkan klub sekelas FC Barcelona tetap bersikukuh mempertahankan Femeni FCB -tim wanita Barcelona- meski minim peminat dan harus merelakan tiket secara gratis saat bertemu Manchester City Women FC di ajang UEFA Women’s Champions League. Rival mereka, Real Madrid bahkan tidak berniat membentuk klub wanita karena tidak akan memberi pemasukan berarti bagi Florentino Perez.

Akan tetapi FIFA sempat meminta 209 anggota mereka untuk memiliki tim nasional wanita, dan hal itu bisa saja diterapkan oleh UEFA kepada klub di kemudian hari.

Latihan Cibubur Soccer Club | PHOTO: Aquila-Style

Latihan Cibubur Soccer Club | PHOTO: Aquila-Style

Bicara tentang permintaan FIFA membentuk tim nasional wanita, adakah yang mengetahui bagaimana nasib sepak bola kita dalam kategori ini ?

Dulu, Indonesia sempat berencana mengembangkan sepak bola wanita melalui Eha Habibah selaku direktur sepak bola wanita di PSSI, tapi semenjak polemik PSSI dan Menpora muncul, eksistensi mereka seakan hilang ditelan hiruk pikuk dunia. Padahal Indonesia adalah negara pertama yang mengembangkan sepak bola wanita di daerah Asia Tenggara, tapi mereka seakan dianak-tirikan oleh asosiasi sepak bola kita.

Kini, Gerakan Kaukus Anak Gawang sedang berusaha menghidupkan kembali sepak bola wanita di negara kita. Tahun lalu ada Bengawan Cup, Pertiwi Cup, dan Piala Budhe Karwo, Januari 2016 sebuah turnamen bernama Women’s Cup diselenggarkan, tapi apakah itu mendapatkan perhatian ?

Sepak bola wanita di Indonesia tak begitu dikenal orang, bahkan bagi masyarakat nusantara sendiri. FIFA TV pernah meliput Galanita Persipura, dan pembukaan dari Sang Narator sangatlah tepat:

“This team is bucking the trend in the huge county, that barely embrace the women game.”

Bermodalkan peringkat empat di Piala AFF 2004, AFC Asia Cup (1977 & 1986), dan SEA Games (1997 & 2001). Negara kita berada di posisi ke-77 dalam peringkat sepak bola wanita versi FIFA (Desember 2015). Lebih tinggi dari rival satu rumpun, Malaysia yang ada di peringkat 90 dunia.

Bandingkan dengan tim nasional pria yang saat ini sedang berada di peringkat 178 FIFA, dan terpaut 12 tangga dari Malaysia di posisi 166. Meski belum memiliki liga profesional, sepak bola wanita di negara kita beruntung tidak berada di bawah lampu sorot.

Pelan tapi pasti mereka bangkit tanpa perhatian siapapun, dan pada akhirnya terlepas dari campur tangan dunia kapitalis, politik, budaya, agama dan faktor perusak lainnya.

Ya, Hari Wanita Internasional mungkin sudah berlalu, tapi seperti yang dikatakan Abby Wambach:

“The International Women’s Day, means, actually nothing to me. Because every day is a women’s day in my opinion. I think every day should be a day to women to be able celebrate themselves. I think every day should be a day for women to empower themselves, and empower other women to be bigger, to be stroger, to be more efficient, to be more independent, etc.” – FIFA TV

Perjuangan memang tak pernah mengenal waktu.

Like this Article? Share it!

About The Author

FC Barcelona & Newcastle United supporter. Author El Llibre del Barca & 50 Derby Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *