Ghazi: Sejarah Kelam & Lambang Harapan

Published On 15/03/2016 | By Rockin Marvin | History

Tanah lapang terasa teduh, meski hanya dikelilingi semak belukar berbentuk benton, tribun dan lampu stadion yang menjulang tinggi tanpa pepohonan. Mata terasa sejuk melihat segerombolan orang beraktifitas di atas hijaunya rerumputan. Begitulah kondisi Stadion Ghazi, Kabul, Afganistan,

Hal seperti ini tak terlihat pada periode 1996 hingga 2001. Tepat 20 tahun yang lalu, sekitar lima ribu tua-muda datang ke Stadion Ghazi untuk menyaksikan sesuatu yang luar biasa mencekam. Bukan atmosfer, dan gemuruh sebuah laga sepak bola, tapi takbir dari para pengunjung menyambung teriakan Kalashikov.

Pemandangan tersebut bukan sesuatu yang aneh bagi warga Kabul. Mau atau tidak, mereka harus datang ke Stadion Ghazi untuk memenuhi undangan pemerintah Taliban. Mereka menyaksikan sanak-saudara menerima hukuman dari pemerintah ketimbang merasakannya sendiri. Datang adalah satu-satunya cara penduduk Kabul untuk selamat dari teror aparat pemerintah.

Dua orang digiring oleh tentara Taliban, sikut mereka dililit dengan seuntas tali menuju kotak penalti Stadion Ghazi. Titik putih masih digunakan untuk mengeksekusi, tapi bukan bola, melainkan manusia.

Mereka adalah terdakwa pembunuhan, dan seperti kata pepatah, mata diganti mata, nyawa dibayar dengan nyawa. Tim eksekutor menjinjing AK-17, senjata andalan tentara Afganistan saat bahu-membahu dengan Uni Soviet selama 10 tahun (1979-1989). Nyawa mereka melayang, diantar lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Saksi bisu ekseskusi | Daily Track Pic / WordPress

Saksi bisu ekseskusi | Daily Track Pic / WordPress

Afganistan menjadi rebutan, kolonialisme Britania Raya, komunisme Uni Soviet, dan demokrasi Amerika Serikat memberi pandangan terbaik menurut masing-masing pihak. Warga lokal terpecah, kedamaian terasa mahal, tapi juga patut diperjuangkan. Inilah yang menjadi latar kehadiran Taliban di Afganistan.

Taliban datang menawarkan syariah versi mereka, dan disambut dengan tangan terbuka oleh bangsa Afganistan. Sebuah harapan untuk menatap masa depan, sekecil apapun itu, bagi mereka yang sedang frustasi, pegangan hidup dalam bentuk apapun terasa masuk akal.

“Kedamaian lebih penting dari urusan perut.  Kami telah melawati segalanya dan akan memberikan semua yang tersisa dibanding kembali ke era saat roket berterbangan di atas kepala kami.”

Itulah alasan hukuman mati, cambuk, dan lain-lain terasa wajar. Warga Kabul terbiasa untuk menyatap roti dan teh untuk memberi mereka energi dalam sehari penuh. Perut bukanlah prioritas utama mereka.

Ayat Al-Qur’an masih dikumandangkan, menyambut kriminal lainnya. Kali ini seorang pencuri melihat bagian tubuhnya ‘diamputasi’ oleh Sang Eksekutor sebelum seorang pencambuk datang untuk menghukum para penzina. Cambuk terus mengayun ke tubuh mereka yang diwajibkan untuk menikah di tempat.

Pembukaan Ghazi baru | PHOTO: Army [mil]

Pembukaan Ghazi baru | PHOTO: Army [mil]

Sudah 15 tahun semenjak Taliban diusir dari tanah Afganistan, mereka kini berdiri sebagai negara republik dan berkat bantuan pemerintah, sekutu dan organisasi-organisasi lain, segala bidang mulai mendapat perhatian. Tak terkecuali sepak bola.

Pada 2011, Stadion Ghazi mempercantik diri, dengan dana bantuan 50.000 Dollar Amerika Serikat (USD), barisan dinding kembali dipoles dengan warna cerah guna menutup kenangan buruk di masa lampau. Satu-satunya yang digantung di tiang gawang Ghazi hanyalah kaitan jaring.

Bukan potongan lengan, kaki ataupun mayat.

Lapangan Ghazi digali 50 centimeter, dan diganti dengan lapisan baru. Seluruh bagian lapangan sudah tidak memperlihatkan kekejaman masa lalu, tapi memori itu tak pernah hilang.

“Terlalu banyak darah tumpah di sini.”, Ujar Mohammad Nasim kepada Rueters sembari menyiram hamparan rumput. “Kami menempatkan lapisan tanah baru sehingga pesepakbola tidak menginjak darah dari sekian banyak korban eksekusi.”, Lanjutnya.

Stadion Ghazi kini telah mengatungi sertifikat FIFA, dan berhak mengadakan pertandingan internasional, tapi tak semua warga Kabul senang untuk berkunjung ke sini.

Presiden Komite Olimpiade Afganistan, Letnan Jenderal Mohammad Zaher Aghbar, mengatakan bahwa Stadion Ghazi kini telah damai, tapi di sisi lain, ia juga mengingat evolusi bangunan tersebut secara mendetil dan gelap.

“Tempat ini digunakan sebagai area eksekusi oleh Taliban, lalu para pesepakbola mulai menggunakannya meski harus bermandikan darah.”, Jelas penjaga gawang tim sepak bola angkatan darat itu.

Penjaga  pintu Stadion Ghazi, Nabeel Qari, mengatakan bahwa banyak yang takut untuk masuk ke dalam karena arwah para mendiang bergentayangan di dalamnya.

“Semua orang percaya bahwa tempat ini dihantui arwah-arwah korban ekseskusi.”, Ujar Nabeel Qari.

Entah benar atau tidak stadion ini menjadi angker karena hantu para korban, yang jelas warga Kabul masih dihantui oleh kenangan masa lalu mereka akan Ghazi.

Harapan itu tiba | PHOTO: News / Xinhuanet

Harapan itu tiba | PHOTO: News / Xinhuanet

Sejarah kelam yang membungkus Stadion Ghazi tak akan bisa dihapus dari ingatan mereka, warga Kabul saat masa pemerintahan Taliban, tapi setidaknya tempat ini memberi harapan bagi generasi penerus.

Tidak seperti di era Taliban, kini mereka bisa merealisasikan mimpi sebagai atlet profesional di stadion bernama lain Stadion Federasi Sepak Bola Afganistan ini.

“Olahraga membantu masyarakat untuk bersatu, menguatkan rasa nasionalisme kami.”, Jelas Aghbar yang pernah berusaha mendatangkan petinju dan tim sepak bola luar negeri ke Stadion Ghazi pada 2012.

Ya, meski bernama Stadion Federasi Sepak Bola Afganistan, Ghazi juga memberi fasilitas untuk petinju. Bahkan kisah tim tinju wanita di sini sudah diadaptasi ke layar emas berjudul “The Boxing Girls of Kabul”.

Sepak bola wanita juga mendapat tempat di Stadion Ghazi, kapten tim, Zahran Mahmoodi mengaku bahwa dulu dirinya harus berlatih secara tersembunyi dan membohongi keluarganya, tapi kini era kebebasan sudah merasuk ke dalam setiap penjuru Afganistan.

Benar saja kata juru bicara kedutaan Amerika Serikat saat acara pembukaan Stadion Ghazi:

“Ini adalah awal dari era kebebasan.”

Zahran Mahmoodi dan kawan-kawan kini bisa leluasa mengeksplorasi kemampuan mereka bermain sepak bola dengan tetap menggunakan jilbab di kepala. Bebas, bukan berarti melupakan akar budaya.

Like this Article? Share it!

About The Author

FC Barcelona & Newcastle United supporter. Author El Llibre del Barca & 50 Derby Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *