Dosa Industri Sepak Bola

Published On 17/03/2016 | By Rockin Marvin | Opini Ngehek

Sepak bola kini bukan sekedar olahraga, tapi juga sebuah industri. Semua orang nampaknya sudah mengetahui hal itu, dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘industri’ berarti kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan. Sementara mayoritas di antara kita hanya melihat kata ‘industri’ sebagai bentuk komersialisme, bahkan kapitalisme para petinggi menggunakan klub kesayangan masing-masing. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi kebenaran yang hanya setengah juga sulit untuk disebut sebagai sebuah ‘kebenaran’ bukan ?

Para petinggi klub memang mengolah sepak bola menggunakan berbagai media, dan tujuan akhir mereka tentulah aliran dana segar. Sejatinya bukan untuk kepentingan pribadi tapi klub itu sendiri.

Kala Joan Laporta menjadi presiden FC Barcelona di 2003, ia dan anggota direksi lainnya langsung menerapkan sebuah lingkaran setan bernama “Virtuous Circle” guna membangkitkan klub yang sedang berada dalam ancaman kebankrutan. Ya, raksasa Katalan sekalipun pernah terancam untuk gulung tikar, tapi beragam proyek dengan variasi program dijalankan Laporta dan memberi udara segar, bernafas serta mengejar ketertinggalan mereka.

Menurut Oxford Dictionaries, ‘virtous circle’ berarti rangkaian program yang saling mempengaruhi satu sama lain. Virtous circle bisa juga dikatakan sebagai sebuah rantai, bukan sekedar lingkaran, dan dalam dunia sepak bola, rantai ini adalah kekuatan finansial, dan perfoma di atas lapangan.

http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/05/27/article-2331758-1A046D26000005DC-88_634x339.jpg

Penjualan Isco selamatkan Malaga | PHOTO: Daily Mail

Banyak yang beranggapan bahwa uang bisa ‘membeli’ prestasi di lapangan, tapi seperti yang kita ketahui, berberapa klub seperti Newcastle United, AS Monaco, Malaga, dan Azhi Makhachkala gagal menunjukkan hal tersebut. Prestasi di lapangan memang menghasilkan uang, tapi klub seperti Leeds United dan Portsmouth sudah cukup menjadi contoh bahwa ‘kekuatan finansial’ tak hanya bergantung pada kuantitas, tapi juga kualitas.

Untuk memulai lingkaran setan di atas, dibutuhkan sebuah pemantik, entah itu mulai dari sektor finansial atau prestasi di atas lapangan. Satu yang pasti, pemantik tersebut berupa gelontoran investasi.

Pembangunan stadion bisa menjadi salah satu investasi yang bisa meningkatkan finansial lewat penjualan tiket. Percikan awal melalui prestasi jelas mengangkat nama dan nilai jual klub. Entah itu piala, atau sekedar tiket kompetisi kontinental, keduanya dapat menarik minat pemain-pemain tenar, peningkatan hak siar, penjualan merchandise dan kembali memperkuat finansial klub.

Guna meraih kedamaian kita harus berperang, dan untuk mendapat keuntungan, berhutang adalah langkah terbaik. Tak semua klub memiliki investor baik yang ingin melakukan ‘donasi’ di dunia sepak bola. Klub Skotlandia, Glasgow Rangers bahkan dikejar-kejar Mike Ashley untuk mengembalikan investasinya. Mike Ashley awalnya berniat mendonasikan uang kepada rival Celtic itu, namun ia berubah pikiran dan menghitung dana tersebut sebagai hutang setelah gagal meningkatkan kepemilikan saham di klub.

Mestalla sempat disewakan untuk pernikahan | PHOTO: Valencia CF

Mestalla sempat disewakan untuk pernikahan | PHOTO: Valencia CF

Rangers hanya satu contoh sial, tapi memang pada realita yang ada, sangat jarang sebuah klub sepak bola bebas dari hutang. Mulai dari Derby Country yang bergantung kepada pemilik permainan Candy Crush, Mel Morris hingga paling wajar, meminjam uang kepada bank atau institusi keuangan lainnya.

Hal ini diterapkan berbagai klub, termasuk Manchester United, Arsenal, Valencia, hingga Borussia Dortmund. Mereka mungkin memiliki prestasi berkilau di lapangan, tapi bukan berarti sektor keuangan klub bersih tanpa hutang. Menurut laporan Give Me Sport tahun lalu, ke-empat nama tersebut masuk dalam 10 klub dengan hutang terbanyak di dunia sepak bola.

Kita ingat bagaimana Valencia sempat menyewakan stadion mereka, Mestalla sebagai tempat pernikahan dan tidak memiliki sponsor utama di kostum tim karena krisis ekonomi yang saat itu rata di klub-klub Spanyol, tapi bagaimana dengan Arsenal dan Manchester United ?

Aneh tapi nyata, prestasi mereka merupakan salah satu alasan mengapa dua klub ini memiliki hutang lebih banyak dibandingkan yang lain. Seperti yang kita ketahui, prestasi merupakan salah satu cara menarik minat pemain-pemain bintang ke klub, dan saat mereka sudah membubuhkan tandatangan di kontrak, artinya mereka setuju untuk dijadikan aset tim tersebut.

Arsenal lebih unggul dibandingkan Manchester United dalam memanfaatkan pemain sebagai aset klub. Ingat bagaimana pertama kali The Gunners -julukan Arsenal- hijrah ke Emirates ?

Emirates Cup datangkan penghasilan lewat tiket dan tv | PHOTO: Emirates

Emirates Cup datangkan penghasilan lewat tiket dan tv | PHOTO: Emirates

Mereka membentuk tim dengan berporoskan pemain-pemain muda yang dibeli dengan harga murah, atau bahkan cuma-cuma dari akademi. Kini hanya tersisa empat pemain yang merasakan atmosfer pertama Emirates Stadium, Keiran Gibbs, Mathieu Flamini, Thomas Rosicky, dan Theo Walcott.

Sisanya sudah dikonversi menjadi uang sebesar 143 juta Poundsterling. Itu belum termasuk penjualan Flamini, dan persenan yang mereka terima dari klub lain ketika menjual mantan pemain Arsenal. Tahun lalu mereka memiliki hutang sebesar 384 juta Dollar Amerika Serikat (USD), hal ini memaksa Arsene Wenger harus pintar menggunakan pemainnya sebagai aset.

Memiliki latar belakang pendidikan ekonomi, dan dijuluki “The Professor“, jelas Wenger berhasil menjalankan tugasnya. Sebagian hutang Arsenal tertutup dan ia mulai diizinkan direksi klub untuk membeli pemain tenar layaknya Oezil, dan Alexis Sanchez.

Sementara itu, Manchester United sebagai klub dengan hutang terbanyak di dunia (596 juta USD) tahun lalu, hanya mendapatkan dana 291 juta Poundsterling dari penjualan pemain mereka sejak 2005. Pengeluaran mereka untuk belanja pemain selama tiga tahun terakhir saja sudah melebihi pendapatan ini (309 juta Poundsterling). Lalu bagaimana Manchester United mempertahankan kekuatan finansial mereka jika selalu boros dengan status tim dengan hutang terbanyak di dunia ?

Credit Card Man.United | PHOTO: Sport Buzz Business

Credit Card Man.United | PHOTO: Sport Buzz Business

Menurut Forbes, pendapatan terbanyak Manchester United lahir dari iklan komersial yang dilakukan pihak klub. Mereka mendapatkan satu miliar Dollar Amerika Serikat atau 14 triliun Rupiah dengan mempromosikan barang atau jasa produk lain. Angka ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan Manchester City. Tiga kali lebih besar dibandingkan pendapatan Chelsea dan Liverpool, dan sama dengan penghasilan iklan Arsenal selama lima tahun.

Tika, seorang pekerja bank pelat merah di Indonesia yang juga tunangan saya mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan pinjaman atau berhutang dengan syarat memiliki aset lebih besar dibanding jumlah hutang. Nilai hutang harus ada di bawah aset, dan memiliki kemampuan untuk membayar.

Manchester United kini menduduki posisi tiga klub sepak bola terkaya dunia dengan aset senilai 1,3 miliar USD, hampir dua kali lipat dari hutang yang mereka miliki tahun lalu, jadi wajar saja jika klub berjuluk ‘Setan Merah’ ini masih bisa boros di bursa transfer. Mendatangkan pemain dengan harga dan kontrak mahal juga salah satu cara meningkatkan nilai aset bukan ?

Gagal ke UEL, bankrut dan lahir kembali | PHOTO: The World Gamw

Gagal ke UEL, bankrut dan lahir kembali | PHOTO: The World Game

Itu Manchester United, bandingkan dengan tetangga mereka, Bolton Wanderers yang sedang dilanda krisis dan hanya memiliki aset pemain 11 juta Poundesterling. Eddie Davies melupakan uang sebesar 185 juta Poundsterling yang pernah ia pinjamkan ke The Trotters -nama lain Bolton- demi menyelamatkan klub.

Ia rela kehilangan tiga triliun, dan hanya meminta Bolton Wanderers dijual seharga 400 miliar Rupiah.

Prestasi dan finansial klub saling bergantung, klub berprestasi seperti Parma harus dibubarkan karena gagal mengatur sektor keuangan mereka dengan baik. Malaga, Nottingham Forest dan Anzhi Makhachkala memiliki kekuatan finansial, tapi gagal berprestasi karena salah kelola.

Mungkin sudah saatnya kita memperhatikan kebijakan direksi, presiden dan pemilik klub dengan lebih seksama untuk ‘menyelamatkan’ klub favorit masing-masing. Termakan euforia bisa saja berujung kebankrutan. Sepak bola memang sudah menjadi industri, dan hutang adalah salah dosa terbesar era ini.

Like this Article? Share it!

About The Author

FC Barcelona & Newcastle United supporter. Author El Llibre del Barca & 50 Derby Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *