Degradasi Pilihan Terbaik Aston Villa

Published On 04/03/2016 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Tahun lalu, kala Aston Villa lolos ke final FA Cup, aroma kebangkitan The Villans -julukan Aston Villa- mulai tercium. Tak tanggung, beberapa orang memprediksi tim asuhan Tim Sherwood itu akan mempermalukan Arsenal, layaknya rival mereka, Birmingham City di 2011.

Sayangnya, prediksi itu tak terbukti jitu. Arsenal menang telak 4-0 dan sukses mengangkat FA Cup dua kali berturut-turut. Meski kalah, masih banyak yang percaya bahwa Aston Villa akan bangkit, setidaknya dalam liga domestik, tapi lagi-lagi, hal itu tak terbukti.

Semenjak ‘diselamatkan’ Randy Lerner dari keterpurukannya di Tottenham, Tim Sherwood kembali menunjukkan talentanya di pinggir lapangan. Ia berhasil menyelamatkan The Villans dari degradasi, menang melawan rival, West Bromwich Albion, Everton, West Ham, bahkan Liverpool di semi-final FA Cup.

Kekalahan di partai puncak tidak menjadikannya pengangguran, ia bahkan diizinkan untuk memakan 49,84 juta Poundsterling di bursa transfer musim panas 2015/16. Pengeluaran yang setara dengan satu triliun Rupiah itu merupakan jumlah terbesar dalam lima musim terakhir.

Jordan Ayew, Amavi, Veretout, Adama Traore, Rudy Gestede, Scott Sinclair dan Joleon Lescott bukanlah kumpulan pemain sembarangan. Sinclair telah membuktikan dirinya bersama Swansea City, Lescott punya pengalaman juara dengan Manchester City, dan lima nama lainnya merupakan incaran berbagai klub yang akhirnya dimenangkan oleh Aston Villa. Perbaikan kualitas pemain seharusnya berjalan lurus dengan keadaan di lapangan dan kelasemen, tapi nyatanya itu hanya teori.

Garde awali karir dengan sempurna | PHOTO: Mirror

Garde awali karir dengan sempurna | PHOTO: Mirror

Tim Sherwood dipecat setelah hanya mengantungi satu kemenangan dari 10 pertandingan liga, dan mantan pemain Arsenal, Remi Garde ditunjuk sebagai pengganti. Meski belum memiliki banyak pengalaman manajerial, Garde dipercaya bisa membangkitkan gairah Aston Villa. Apalagi, kini Villa Park dipenuhi oleh pemain-pemain Perancis, sama seperti kewarganegaraan Garde.

Ia juga mendapat dukungan dari Arsene Wenger, Robert Pires, dan pemain-pemain lain yang pernah berbagi lapangan dengannya. Mendapat kontrak hingga 2019, Garde mengawali karirnya di Villa Park dengan menahan imbang Manchester City. Satu hasil positif yang bisa menjadi fondasi kebangkitan tim.

Setelah berhasil menjaga kesucian gawang melawan salah satu unggulan juara Barclays Premier League (BPL), Aston Villa harus menelan lima kekalahan dan menerima tiga hasil imbang sebelum sukses meraih kemenangan pertama mereka di bawah Garde.

Momen bersejarah itu diraih Garde setelah mereka mengalahkan Crystal Palace 1-0 di Villa Park. Berkat gol bunuh diri mantan pemain Wolverhampton, Wayne Hennessey, moral Gabi Agbonlahor dan kawan-kawan meningkat.
Aston Villa menahan imbang sensasi BPL musim ini, Leicester City (1-1), dan juga West Bromwich Albion (0-0).

Namun setelah dibantai Manchester City 4-0 di ajang FA Cup, mental mereka kembali ‘jeblok’, dan hanya berhasil menang sekali di lima pertandingan terakhir. Remi Garde mencoret kesempatan timnya untuk bertahan di BPL, ia juga menyalahkan manajemen yang tidak memberikan dana segar pada bursa transfer musim dingin tahun ini.

Wajar. Remi Garde mungkin tidak mendapatkan uang di bursa transfer pertamanya sebagai manajer Aston Villa, tapi manajemen telah menyuntikan 50 juta Poundsterling untuk Tim Sherwood. Investasi mereka keliatan tanpa hasil, dan Garde meminta tambahan!?

MUSTAHIL.

O'Neill merasa tidak dihargai | PHOTO: CNN

O’Neill merasa tidak dihargai | PHOTO: CNN

Akan tetapi, jika kita menarik ke belakang, ini bukan pertama kalinya Aston Villa gagal memenuhi keinginan mereka. Kesengsaraan dimulai semenjak Martin O’Neill meninggalkan Villa Park.

Berkat O’Neill, The Villans kembali merasakan dinginnya kompetisi continental. Aston Villa merupakan salah satu penantang tiket UEFA Cup, tiap musimnya, tapi kerja keras pria asal Irlandia Utara itu seakan tak dihargai.

Pada 32 besar UEFA Cup 2008/09, Aston Villa sukses menahan imbang CSKA Moskow di Inggris, publik ingin mereka lolos, tapi O’Neill menyimpan pemain-pemain terbaiknya dan The Villans kalah 2-0.

2009/10, Aston Villa dikalahkan klub Austria, Rapid Wien pada fase play-off. Hasil ini tentu membuat Randy Lerner murung. Sejak datang ke Birmingham untuk mengakuisisi klub asal Aston, ia rasa menyuntikan dana cukup untuk membawa klub ke empat besar, tapi setelah tiga tahun berinvestasi, posisi enam jadi pencapaian terbaik klub.

Martin O’Neill hengkang, dan digantikan Gerard Houllier, sayangnya ‘penemu’ Steven Gerrard itu hanya menghabiskan sembilan bulan di Villa Park karena masalah kesehatan. Kehilangan Houllier, Lerner berjudi dengan mendatangkan Alex McLeish dari klub sekota, Birmingham City. McLeish baru saja memenangkan Carling Cup dengan The Blues –julukan Birmingham- tapi gagal mempertahankan klub itu di BPL.

Ogah berkarir di Championship, McLeish akhirnya memutuskan menjadi Yudas, dan menjabat tangan Lerner untuk beberapa keping emas. Kurang dari setahun, McLeish akhirnya ‘digantung’ dan menjadi pengangguran.

Gagal mendapatkan Roberto Martinez dan Steve McClaren, Aston Villa akhirnya menunjuk manajer Norwich City, Paul Lambert untuk menjadi nahkoda tim. Memiliki rekor yang cukup baik dengan Norwich, Lambert dipercaya dapat mengembalikan Aston Villa ke era O’Neill. Ia datang dan membawa beberapa pemain krusial untuk tim, termasuk Ron Vlaar dan Christian Benteke.

Vlaar dan Benteke menjadi kunci tim arahan Lambert, namun selain dua pemain itu, ia memilih pemain-pemain muda yang sebagai pilihan utama. Mulai dari Ciaran Clark, Nathan Baker, Matt Lowton, Barry Bannan, hinggan Fabian Delph sering kali mendapatkan tempat lebih dibanding pemain-pemain senior.

Paul Lambert bersikeras bahwa keputusannya mengandalkan pemain-pemain muda akan membuat landasan kuat untuk Aston Villa beberapa tahun ke depan, tapi kebijakan tersebut tak bisa melepaskan The Villans dari pertarungan di zona merah.

Kebijakan Lambert dikecam para suporter, Lerner juga mendapatkan suara sumbang yang sama, tapi layaknya klub-klub sepak bola lain, semua kesalahan ada di manajer, bukan pemilik. Lambert dipecat, dan Randy Lerner mulai setengah hati mengurus Aston Villa.

Degradasi dapat sehatkan Aston Villa | PHOTO: Irish Mirror

Degradasi dapat sehatkan Aston Villa | PHOTO: Irish Mirror

Klub Aston itu mulai salah urus, Randy Lerner mengoper tugas manajemen ke orang-orang terdekatnya, dan pemain-pemain terbaik The Villans satu per satu dijual. Kinerja Lambert untuk melakukan regenerasi musnah, skuat Aston Villa diisi pemain-pemain yang sudah habis masanya, dan manajer kesulitan membangun tim baru.
Awalnya Lerner ingin menjual klub seharga 200 juta Poundterling, tapi kala suporter Aston Villa ingin mengakuisisi klub, niat itu dibatalkan pengusaha Negeri Paman Sam.

Aston Villa memang salah satu tim raksasa dengan predikat tak pernah degradasi dari Premier League, tapi Goliath asal Kota Birmingham kini sudah tertidur cukup lama. Aneh tapi nyata, nampaknya degradasi merupakan pilihan terbaik untuk mengembalikan mereka ke masa kejayaan.

Divisi dua Inggris, Championship, merupakan tempat terbaik untuk menempa kembali sikap ksatria Aston Villa. Mantan pemain Manchester City, Joey Barton mengatakan liga kedua Inggris ini bukan sekedar kompetisi melainkan medan perang.

Jika ada tim yang setengah hati mengikutinya, mereka akan terjungkal dan turun lebih jauh ke League One atau divisi tiga. Hal ini pernah terjadi pada rival Aston Villa, Wolverhampton Wanderers, dan juara FA CUP, Wigan.

Pada sisi lain, andai mereka cukup kuat menghadapi perburuan promosi, bukan tak mungkin Aston Villa bangkit kembali jadi salah satu kekuatan liga. Sebut saja Swansea City, Southampton FC, dan yang paling terasa, West Ham.

Dari sisi ekonomi, Football League, badan liga yang mengatur tiga divisi di bawah BPL, memiliki kebijakan Parachute Payment. Kebijakan ini memastikan klub-klub yang terdegradasi dari BPL tak kehilangan modal, dan bisa kembali membangun tim untuk naik ke divisi tertinggi.

Mereka juga memiliki uji kelayakan untuk para pemilik klub, artinya Aston Villa bisa saja lepas dari Randy Lerner jika pihak Football League mencium bau tak sedap di sekitar pengusaha Amerika Serikat tersebut.

Setidaknya begitulah cara Birmingham City lepas dari Carson Yeung, dan bagaimana Leeds United bisa aman dari hal-hal usil Massimo Cellino.

Jadi tunggu apa lagi Villans ? Championship tak akan mudah, hingga kini kita belum bisa melihat kembali Derby County atau Middlesbrough di BPL, tapi jika kalian menjalankannya dengan sepenuh hati, tinggal menunggu waktu untuk penikmat sepak bola kembali merasakan gairah Villa Park layaknya era Petrov, Young, Downing, dan Barry.

Ingat, untuk melompat jauh, kita perlu mundur beberapa langkah.

Goodluck Villa, PREPARED.

 

BY: Willibrordus Bintang Hartono / @ObinHartono1

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *