Siapkah Kau ‘tuk Jatuh Cinta Lagi ?

Published On 25/07/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Mungkin kalian sedikit bergumam kecil saat membaca judul tulisan ini. Bukan hal yang aneh jika kalian melakukannya, karena judul tulisan ini cukup familiar di telinga kita akhir-akhir ini. Sebuah judul lagu ini sering sekali kita dengar di radio-radio.

Namun artikel ini tidak akan membahas HiVi!, melainkan sebuah klub sepak bola yang sudah 33 tahun absen dari kasta tertinggi liga Jerman, SV Darmstadt 98.

Sejak liga sepak bola Jerman dikelola secara profesional dan terbuka tahun 1999, tidak main-main! Perjuangan mereka hingga berhasil kembali ke Bundesliga dimulai dari divisi regional, tepatnya di Regionalliga Süd.

Bahkan di penghujung musim 2002/03 silam, mereka harus terdegradasi ke Oberliga Hessen, alias liga provinsi yang merupakan dasar piramida sepak bola Jerman.

Meskipun sempat berlaga di divisi terendah di Jerman, bukan berarti Damstadt miskin prestasi. SV Darmstadt 98 merupakan tim tersukses sepanjang sejarah di kejuaran Hessen Pokal dengan torehan lima piala dalam sembilan tahun. Lalu di tahun 2000 sampai dengan 2002, Darmstadt juga menjuarai Possmann-Hessen Pokal tiga tahun berturut-turut.

Puncaknya, adalah ketika SV Darmstadt 98 berhasil menjuarai Oberliga Hessen 2004 di bawah komando manajer HSV Hamburg saat ini, Bruno Labbadia.

Krisis paksa Labbadia mundur | Photo: Spox

Krisis paksa Labbadia mundur | Photo: Spox

Sialnya, masalah kembali menghampiri Darmstadt. Sesuai menjuarai Oberliga Hessen, Darmstadt harus menghadapi kenyataan bahwa mereka terlilit hutang yang cukup mencekik bagi klub selevel mereka.

Hutang sebesar 1.1 juta Euro atau 1/3 dari harga Jan Koller saat dibeli Borussia Dortmund, memaksa Darmstadt menjual beberapa pemain bintang mereka pada saat itu.

Hal ini ditandai dengan mundurnya Labbadia sebagai pelatih dan digantikan oleh Gino Lettieri, yang dipercaya untuk mengasuh skuad dan memperbaiki kondisi keuangan klub pada saat itu.

Kedatangan Lettieri ternyata tidak membawa berkah seperti yang diharapkan. Kurang lebih empat bulan menjabat, Lettieri  digusur Gerhard Kleppinger. Mimpi buruk Darmstadt belum berakhir di bawah Kleppinger.

Setelah melalui jalan berbatu dan terjal, pada awal kampanye musim 2007/08 SV Darmstadt akhirnya menerima hembusan angin segar. Seorang penguasa baja kapal, Hanns Kessler datang mengakuisisi klub, menutup seluruh hutang dan memberi dana segar.

Setelah berhasil melunasi hutang dan segala macam problematika klub, Darmstadt perlahan menunjukkan asa mereka untuk kembali bangkit.

Dominik Stroh Engel top skorer SV09 | Photo: Darmstadt09

Dominik Stroh Engel top skorer SV09 | Photo: Darmstadt09

Keberhasilan mereka meraih piala Hassen Pokal kelima dimanfaatkan Die Lillien untuk melanjutkan tren positif ke ajang liga. Di bawah asuhan, Kosta Runjaic, manajer Kaiserslautern saat ini, SV Darmstadt berhasil memastikan diri untuk promosi ke 3.Bundesliga setelah mengalahkan FC Memmingen 4-0 di laga pamungkas.

Tidak berhenti sampai di situ, SV Darmstadt memulai musim 2011/12 di 3.Liga dengan kemenangan besar atas tim langganan Bundesliga, Arminia Bielefeld dengan skor 5-1.

Sejak saat itu, meskipun tidak dapat mengakhiri musim di peringkat 3 besar, SV Darmstadt 98 membuktikan kualitas mereka dengan konsistensi dan kelayakan untuk bermain di liga tersebut. Progres terus berlanjut, pada DFB Pokal 2013, De Lillien bahkan sukses menyingkirkan Borussia Monchengladbach lewat drama adu penalti.

Di musim yang sama, pemain andalan mereka, Dominik Stroh Engel, mendapatkan penghargaan sepatu emas atas kerja kerasnya di lini depan.

Ia mencetak 27 gol dari 34 penampilan. Pundi-pundi gol Engel membantu klub untuk bercokol di peringkat tiga dan layak untuk melakoni laga play-offs. Meski kalah di laga kandang melawan Arminia, Darmstadt sukses memutus kutuk leg kedua berkat gol Elton de Costa pada menit 120+2.

Akhirnya, berkat peraturan gol tandang, Darmstadt layak mendapatkan tiket untuk naik ke 2.Bundesliga setelah mengimbangi Arminia Bielefeld, 5-5.

Squad Darmstadt yang terakhir merasakan 1.Bundesliga | Photo: Kicker

Squad Darmstadt yang terakhir merasakan 1.Bundesliga | Photo: Kicker

21 tahun absen di 2.Bundesliga, tidak menjadi halangan untuk SV Darmstadt 98 untuk dapat menunjukkan taji mereka sebagai klub senior – berusia lebih dari 100 tahun – Terbukti dengan meratanya kemampuan skuad asuhan Dirk Schusterdalam mencetak gol. Meski tidak memiliki top-skor pada musim itu, Darmstadt berhasil mencetak 44 gol secara kolektif.

Laga terakhir mereka di 2. Bundesliga melahirkan drama tersendiri.

Memiliki poin yang sama dengan posisi ketiga, KSC Karlsruher, dan hanya terpaut 1 poin dari posisi empat, 1. FC Kaiserslautern, gol tunggal Tobias Kempe ke gawang St.Pauli berhasil mengunci posisi runner-up di pekan terakhir dan kembali ke divisi tertinggi sepak bola Jerman setelah 33 tahun merangkak.

SV Darmstadt 98 sekarang dapat bernafas lega dan tenggelam dalam keharuan karena kembali menghirup atmosfir Bundesliga. Sesuatu yang selalu diinginkan semua klub Jerman.

Namun, mereka tidak bisa santai terlalu lama. Tantangan besar siap menyambut di pekan-pekan pembuka. Pada delapan pekan pertama, Die Lilien harus siap ditantang mayoritas klub dari 10 besar musim lalu.

Hannover 96, Borussia Dortmund, Bayern München, FC Mainz 05, FC Schalke 04, TSG Hoffenheim, Bayer Leverkusen, dan Werder Bremen siap menunggu. Entah sial atau keberuntungan, yang jelas SV Darmstadt yang pernah berlaga di Bundesliga 33 tahun lalu berbeda dengan saat ini. Mereka telah datang kembali dengan harapan dan kekuatan baru dan siap menggebrak tatanan Bundesliga musim depan.

Mungkin, fans Darmstadt mendengar bahwa klub favorit mereka sudah tidak lagi berlaga di Regionalliga. Dalam benak mereka-pun bertanya, “Masih adakah bayangan kenangan kelam di punggung mereka?”

“Atau ini saat yang tepat bagi Darmstadt untuk singgah di Bundesliga?”

“Namun siapkah mereka untuk berlaga lagi disini?”

Bagi fans Darmstadt, siapkah kau ‘tuk jatuh cinta lagi kepada Bundesliga?

 

BY: Ramadhan Surjoharso

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *