Proklamator Jepang di Bundesliga

Published On 07/07/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Sepak bola Asia akhir – akhir ini memang mulai menunjukan peningkatan di industri sepak bola, lihat bagaimana India dan Tiongkok mulai mendatangkan mantan pemain kelas dunia dari lima liga top eropa. Sebelum kedua negara di atas, ada pula Jepang yang menjadi persinggahan Diego Forlan. Bagi negri matahari terbit satu ini, sepak bola bukanlah olahraga paling populer, namun bukan berarti dibengkalaikan begitu saja.

Jepang sudah memikirkan sepak bola pada periode 1960 hingga 1970. Pada tahun – tahun tersebut, mereka membangun kerja sama dengan Jerman guna mengorbitkan talenta mereka di benua biru. Lalu lahirlah pemain profesional pertama Asia yang bermain di eropa, Yasuhiko Okudera.

NB: Sebelum saya menceritakan hal-ihwal Okudera, ada baiknya membaca artikel ini sembari mendengarkan lagu-lagu J-Pop, atau minimal “Kokoro No Tomo” dari Mayumi Itsuwa agar lebih terasa oldies-nya!

Okudera Pahlawan Jepang | Photo: Tumblr

Okudera Pahlawan Jepang | Photo: Tumblr

Yasuhiko Okudera memulai karir sepakbolanya pada tahun 1970, saat ia masih berseragam Furukawa Electric SC – kini menjadi JEF United Ichihara – di Japan Soccer League (JSL). Oku, sapaan akrab Okudera bermain selama tujuh tahun disana dan tampil sebanyak 100 kali dengan torehan 36 gol. Sebuah angka yang tidak buruk mengingat posisinya merupakan seorang gelandang

Pada tahun 1972, pelatih tim nasional Jepang, Ken Naganuma memanggil Okudera ke timnas Jepang setelah tampil apik bersama Furukawa Electric. Okudera bukanlah pemain favorit pelatih – pelatih Jepang saat itu, setelah menjalani enam laga, Naganuma tidak memanggil kembali pemain kelahiran Akita tersebut.

Okudera absen selama dua tahun sebelum akhirnya kembali merasakan seragam Samurai Biru. Setelah Ken Naganuma hengkang, Jepang diarsiteki oleh empat pelatih berbeda dan mereka tidak menggunakan jasa Okudera yang sudah berstatus pemain Bundesliga. Barulah setelah Yoshinobu Ishii ditujuk sebagai pelatih kepala (1986-1987), Okudera mendapatkan tempat di tim nasional. Selama 15 tahun, ia hanya membela Jepang 32 kali.

Sebelum absen dari tim nasional, Okudera dipanggil untuk bergabung ke pusat pelatihan dimana talenta – talenta Jepang dipusatkan untuk memperlihatkan kemampuan mereka di depan para pencari bakat klub – klub Jerman.

Double winner di musim pertama | Photo: DFB

Double winner di musim pertama | Photo: DFB

Singkat kata singkat cerita, permainan Okudera membuat pelatih FC Koln, Hennes Weisweiler kesengsem dan pada akhirnya Furukawa Electric melepas Okudera ke FC Koln pada tahun 1977. Hal unik dari proses transfer ini adalah, Furukawa Electric memberi jaminan penuh kepada Okudera bahwa dirinya tidak akan dipecat oleh mereka jika pada akhirnya gagal di Jerman. Bukan sebagai pemain, tapi operator komputer, pekerjaan Okudera di Furukawa Eletric.

5 Oktober 1977, sejarah itu dimulai. Yasuhiko Okudera memulai debut bersama FC Koln dan menjadi pemain Asia pertama yang bermain di Bundesliga ketika melawan MSV Duisburg. Laga perdananya di eropa dibuka dengan kemenangan 2-1 dan musim tersebut berakhir dengan keberhasilan FC Koln meraih double winner, Bundesliga dan DFB Pokal.

Saat bertemu Nottingham Forest, Okudera kembali mencatatkan namanya sebagai yang pertama. Pemain Asia pertama yang mencetak gol di ajang European Cup atau kini lebih dikenal dengan nama Champions League. FC Koln akhirnya kalah pada laga semi – final tersebut, dan Nottingham Forest arahan Brian Clough keluar sebagai juara.

Setelah tiga musim mengenakan seragam FC Koln, Okudera hijrah ke Hertha Berlin yang pada saat itu masih bermain di 2 Bundesliga. Okudera hanya bertahan satu musim di Ibukota Jerman, Otto Rehaggel yang saat itu jadi pelatih Werder Bremen, merekrut Okudera untuk memperkuat klub yang baru promosi ke Bundesliga tersebut.

alge-MMAP-md

Photo: Bundesliga Fanatic

Dibandingkan klub – klub Jerman yang dibela Okudera sebelumnya, disinilah ia menetap paling lama. Okudera bermain utuk Werder Bremen selama lima tahun dan selalu gagal meraih sebuah piala. Okudera hanya sukses menempati posisi runner-up pada 1982/83, dan juga 1984 – 1986.

Sembilan tahun merantau, Yasuhiko Okudera memutuskan untuk pulang ke Furukawa Electric pada 1986. Ia kembali bermain untuk klub pertamanya tersebut selama dua tahun sebelum akhirnya pensiun.

Gantung sepatu bukan berarti Okudera jauh dari sepak bola. Ia ikut membantu transformasi sepak bola Jepang ke level professional dan membentuk J.League pada 1993. Melatih dan menjadi presiden mantan timnya yang sudah berubah nama menjadi JEF United, sebelum membantu Yokohama FC promosi ke divisi tertinggi sepak bola Jepang bersama mantan rekan satu tim FC Koln, Pierre Littbaski.

Okudera juga sempat menjadi Presiden Plymouth Argyle sebelum krisis finansial melanda klub.

Walaupun ada nama Paulino Alcantara pemain berdarah Filipina yang membela FC Barcelona sebelum perang dunia pertama, publik sepak bola Asia tampaknya harus berterimakasih kepada Yasuhiko Okudera. Selain karena Okudera murni berasal dari ‘atap dunia’, ia juga memulai karirnya saat masa – masa pembangunan era sepak bola profesional. Berkat beliau-lah sepak bola Asia dipandang sebagai salah satu potensi kekuatan dunia.

Terlebih lagi bagi Jepang, tanpa Okudera, negara yang sempat hancur akibat bom atom tersebut mungkin tidak dapat menyaksikan Kagawa, Sakai, Uchida dan lainnya bermain di Bundesliga saat ini.

Yasuhiko Okudera adalah proklamator Jepang di Bundesliga.

 

BY: Imam Santoso / @idsantos_94

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *