Perjalanan Panjang Seorang Jenius

Published On 06/07/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Beberapa waktu yang lalu pendukung Perancis dikejutkan dengan dua hasil minor. Yang pertama mungkin masih dapat dimaklumi, mengingat mereka menghadapi Belgia, Saat itu Les Bleus-pun mampu mencetak tiga gol, meskipun tetap kalah dengan selisih gol. Namun, hasil minor kedua bisa dibilang sangat mengejutkan. Mereka dikalahkan oleh tim dari kawasan Balkan, Albania.

Ya, Albania mampu mengalahkan Perancis meskipun hanya dengan skor 1-0. Pada pinggir lapangan, tepatnya bench Albania, duduklah seorang pria dengan kacamata hitam. Ia lebih terlihat seperti turis atau bos mafia dibandingkan pelatih sepak bola. Orang tersebut adalah Sang peracik strategi, Gianni De Biasi.

Siapa itu Gianni De Biasi ?

Mungkin hanya mereka yang benar – benar menggemari Serie-A, tahu siapa itu De Biasi.

Sebelum duduk di kursi pelatih Albania, De Biasi merupakan seorang pesepakbola. Karirnya diawali bersama Treviso, Gianni De Biasi sempat pula berseragam untuk Inter Milan walaupun tidak pernah dimainkan pada laga Serie-A, Selebihnya, ia memperkuat berbagai klub semenjana seperti Brescia, Palermo, Vicenza, dan Bassano.

Sculli salah satu kunci De Biasi di Modena | Photo: Qoutidiano

Sculli salah satu kunci De Biasi di Modena | Photo: Qoutidiano

Ketika berada di penghujung karir di Bassano, Presiden klub menawarkan De Biasi jabatan sebagai pelatih tim muda klub, disinilah awal karir kepelatihannya dimulai.

Rekornya di pinggir lapangan juga tidak mentereng. Ia belum pernah melatih kesebelasan ternama Serie A.

Pro Vasto, Carpi, Cosenza, SPAL, Modena lebih tertarik menggunakan jasanya. Namun, di dua tim terakhir, kejeniusannya mulai terlihat. De Biasi membawa SPAL juara Serie C2, divisi keempat sepak bola Italia pada 1997/98. Musim berikutnya ia membawa klub yang sama meraih gelar Coppa Italia Serie C. Kesuksesan tersebut akhirnya membawa De Biasi ke Modena.

Ditunjuk sebagai manajer Modena pada musim dingin 1999, ia mengalami periode terbaik pada karir kepelatihannya. De Biasi berhasil membawa Modena promosi beruntun dari Serie C ke Serie A. Pada musim perdananya melatih di puncak piramida sepak bola Italia, Ia sukses mempertahankan status Modena di Serie-A.

De Biasi Pahlawan Torino | Photo: Kicker

De Biasi Pahlawan Torino | Photo: Kicker

Kemudian, De Biasi pergi mencari tantangan baru. Brescia menjadi klub yang ia pilih untuk memperbanyak resume miliknya. Belang hitam tercatat pada rekor De Biasi. Setelah tujuh tahun tidak pernah menerima surat pemecatan, jabatannya dicopot oleh klub yang saat itu diperkuat Roberto Baggio.

Tahun 2005, Biasi hijrah ke Turin dan membawa Torino promosi ke Serie A. Sempat digantikan Alberto Zaccheroni tiga hari sebelum musim 2006/07 dimulai, De Biasi kembali di pertengahan kompetisi untuk menyelamatkan Torino dari degradasi. Ini merupakan pencapain positif terakhir Biasi di level klub.

Gagal mempertahankan status Levante di La Liga, dan hanya bertahan dua bulan di Udinese menjadi nasib pria kelahiran 1956 tersebut setelah menjadi pahlawan Torino.

Perjalanan ke Albania

2011, ia dikontrak oleh Federasi Albania (FSHF) untuk melatih tim nasional. Secara hasil, awal era Biasi tidak terlalu bagus. Akan tetapi ia tetap membangunnya secara perlahan.

De Biasi tidak hanya memanggil pemain yang lahir di Albania saja, ia juga aktif mencari pemain – pemain keturunan Albania-Kosovo untuk diberi kesempatan membela tim nasional. Keberadaan Etrit Berisha, Migjen Basha, Mergrim Mavraj menjadi buktinya hal tersebut.

Ia juga tidak ragu memberikan kesempatan kepada pemain – pemain muda, guna penyegaran dalam tim.

Sosok senior tetap dibutuhkan De Biasi | Photo: Dardanet

Sosok senior tetap dibutuhkan De Biasi | Photo: Dardanet

De Biasi menggabungkan para junior dengan senior mereka, Lorik Cana dan Andi Lila. Hal ini terlihat pada pertandingan terakhir melawan Perancis. Pemain berpengalaman yang ia bawa hanyalah Orges Shehi, Lorik Cana dan Andi Lila. Sisanya merupakan pemain – pemain yang baru setahun atau dua tahun mencicipi seragam kebesaran Albania.

Bukan hanya memilih pemain secara cermat, De Biasi juga memiliki gaya permainan yang sesuai dengan keadaan tim dengan menerapkan sepak bola defensif, nan efektif.

Gaya pertahanan gerendel khas Italia sangat terlihat dalam permainan Albania. Sangat disayangkan pola serangan mereka cukup monoton sehingga sulit menciptakan gol.

Bukan hanya memikirkan urusan di lapangan, De Biasi juga menanamkan disiplin, profesionalisme, dan karakter saat tidak bertanding. Sesuatu yang kurang ditanamkan oleh para pendahulunya.

Retentan usaha Biasi yang sangat detil berhasil membuat sepakbola Albania bangkit. Meski masih menuai hasil kurang baik pada kualifikasi Piala Dunia 2014, secara permainan Albania mulai memperlihatkan kualitas tinggi mereka.

Selebarasi Ermir Lenjani vs Denmark | Photo: European 2016

Selebarasi Ermir Lenjani vs Denmark | Photo: European 2016

Kualifikasi Euro 2016, hasil akhir mulai memihak kepada mereka. Menghadapi Portugal, Albania secara mengejutkan mampu memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0. Disusul dengan menahan imbang Denmark 1-1 di Elbasan Arena.

Bahkan pada akhir tahun 2014, mereka mampu menahan imbang Perancis dan membuat Italia depresi walaupun akhirnya kalah tipis.

Sejauh ini, Albania meraih dua kemenangan beruntun di tahun 2015, mereka menang 2-1 atas Armenia di kualifikasi Euro 2016 dan terakhir mengalahkan Perancis pada laga persahabatan dengan skor 1-0.

Italia memang sudah terbukti memiliki segudang pelatih jenius. Diantara mereka banyak yang sudah meraih berbagai gelar prestisius bersama klub bertabur bintang. Gianni De Biasi memang belum merasakan kedua, namun, ia tetaplah seorang jenius. Walaupun dalam level yang berbeda tentunya.

Arie Hann, sukses di UCL bukan jaminan dapat mengangkat Albania | Photo: Arcor

Arie Hann, sukses di UCL bukan jaminan dapat mengangkat Albania | Photo: Arcor

Atas kejeniusannya tersebut, pada 28 Maret 2015 ia diberi kewarganegaraan Albania oleh Sang Presiden, Bujar Nishani. Dalam beberapa bulan ke depan kita akan kembali melihat, apakah kecemerlangan Gianni De Biasi terus berlanjut hingga membawa Albania untuk pentas di Perancis 2016?

Jika hal itu sukses ia lakukan, Shqiponjat alias Si Elang akan tampil untuk pertama kalinya dalam turnamen FIFA sejak pertama kali bergabung pada 1932.

Gianni De Biasi juga akan membuktikan dirinya lebih baik dibandingkan 30 pendahulunya di kursi kepelatihan Albania, termasuk Arie Hann, sosok yang pernah membawa VfB Stuttgart ke final UEFA Cup dengan diperkuat Juergen Klinsmann dan Maurizio Gaudino.

 

BY: Gatra Drestanta / @cirolaziale

 

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *