Kisah Heroik Seorang Koki dan Teman-Temannya Mengalahkan Inggris

Published On 28/07/2015 | By Kontributor Medio Club | History

Banyak diantara kita, para penikmat sepakbola, mulai tertarik dengan sepak bola Amerika Serikat setelah  melihat penampialan mereka di Piala Dunia 2014, atau saat Major League Soccer (MLS) resmi bergulir.

Mereka mungkin dapat dikatakan baru masuk dalam radar kita pada 1990. Suatu hal yang wajar karena Amerika Serikat masih gagal menunjukan kemampuan sepak bola sebelum itu. Akan tetapi perjuangan telah dimulai jauh sebelum itu.

Menilik jauh ke belakang, sebelum perang dunia kedua, tim nasional ini merupakan kompetitor lemah. Berbagai kekalahan dialami oleh Amerika Serikat. Bahkan mereka pernah bertekuk lutut melawan negara Skandinavia, Norwegia dengan skor 11-0.

Namun, sekitar lima tahun seusai perang dunia tersebut, Amerika Serikat kembali mendapat kesempatan untuk mencoba peruntungan mereka.  Piala Dunia 1950, di Brazil menjadi panggung kala itu.

Belum pulih sepenuhnya dari efek perang, mereka berangkat berbekalkan pemain seadanya. Pemain – pemain yang kurang bugar, tidak bekerja secara maksimal, dan tidak bermain di liga profesional seperti saat ini.

Asosiasi sepak bola mereka kesulitan mencari pemain dengan kemampun teknis ataupun kondisi fisik prima. Berbeda dengan olahraga lain, seperti baseball dan tinju. Sepak bola, atau ‘soccer’, kata masyarakat disana sangat sepi peminat.

Amatir di Piala Dunia | Photo: Google Images

Amatir di Piala Dunia | Photo: Google Images

Alhasil, layaknya cerita-cerita unik yang kita dengar saat Haiti masuk ke Piala Konfederasi 2013, pemain-pemain Amerika Serikat bukanlah pesepakbola yang kita kenal seperti saat ini.

Ada nama seorang tukang pos, Harry Keogh di dalam tim mereka. Strategi tim diracik oleh seorang guru dari Pennsylvania, yang juga menjadi sosok pemimpin dalam tim nasional Amerika Serikat saat itu, Walter Bahr. Mungkin hanya Frank Borghi, seorang veteran perang dunia asal Italia yang dapat dikatakan cukup ahli dalam hal sepak bola.

Borghi membawa rekan-rekan imigran Italia lainnya untuk membela Amerika Serikat. Mereka sebelumnya tergabung dalam klub La Montagna. Singkat kata, para imigran Italia inilah yang mengajarkan pemain lain untuk mengenal sepak bola.

Tim nasional Amerika Serikat saat itu memang tidak multi-kultur seperti saat ini. Hampir seluruhnya berisikan imigran Italia atau Irlandia. Bahkan hanya Joe Gaetjens, seorang koki keturunan Haiti yang memiliki kulit hitam dalam tubuh tim.

Ya, saat itu isu rasial di Amerika Serikat memang belum padam sepenuhnya. Beruntung, kemampuan teknis Gaetjens di atas rata-rata pemain lainnya.

Inilah modal mereka di Brazil, kumpulan pemain kelas turnamen kampung (tarkam) atau Sunday League, istilah kerennya. Minim pemain cadangan, kurang dukungan dan juga pengetahuan sepak bola yang dangkal membuat tim ini bermain lepas di negri Samba.

Bagi mereka, mencetak gol berarti sebuah kemenangan.

Momen bersejarah timnas USA | Photo: soccerhistory

Momen bersejarah timnas USA | Photo: soccerhistory

Hal tersebut mereka tunjukan saat berlaga. Bertemu dengan Inggris, raksasa dalam dunia sepak bola, negara yang berhak menyombongkan diri sebagai inventor olah raga dunia, Amerika Serikat tidak gentar. Bisa jadi mereka bahkan tidak mengetahui predikat yang tersamat di negara lawan.

“Kemudian sebuah umpan dilayangkan oleh Bahr, menemukan Gaetjens.. dan gol!!!”

Amerika Serikat secara mengejutkan mencetak gol terlebih dahulu melawan pemain-pemain yang diakui dunia sebagai sosok legenda, seperti Stan Mortesen dan Alf Ramsey.

Sukses membobol gawang Bert Williams, Amerika Serikat menghabiskan sisa waktu pertandingan dengan bertahan. Taktik ‘Parkir Bus’ berhasil membuat frustasi Tom Finney dan Roy Bentley. Hingga akhir laga, keunggulan 1-0 sukses dipertahankan oleh Bahr dan kawan-kawan.

Inggris-pun harus tertunduk malu. Keputusan mereka tidak menurukan beberapa pemain utama menjadi boomerang bagi The Three Lions.

Sayangnya, kisah manis tersebut tidak dapat bertahan lama. Pembantaian 5-2 yang dilakukan Chile membuat perjalan Amerika Serikat terhenti. Mereka pulang dengan tangan hampa, tapi perasaan lega tetap menyelimuti.

Mereka berhasil mengalahkan tim yang dihuni pemain profesional. Itu merupakan piala tersendiri bagi para pemain Amerika Serikat. Kepala Bahr, Gaetjens, Borghi, dan lainnya boleh terangkat, bangga. Inilah tim nasional yang telah membentuk mental Amerika Serikat saat ini.

Kemampuan mereka mungkin di bawah rata-rata, namun kekompakan dan semangat bermain mereka lebih dibanding yang lain. Tak heran jika sekarang Amerika Serikat mengusung “One Nation. One Team.” untuk tim nasional sepak bola mereka.

Slogan yang telah tercermin sejak 65 tahun yang lalu.

 

BY: Arya Mahendra

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *