Mimpi Buruk yang Didambakan West Ham United

Published On 30/06/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

11 Pertandingan, itulah mungkin yang akan dijalani West Ham United sebelum liga Inggris 2015/16 resmi bergulir. Itulah situasi luar biasa yang dihadapi manajer baru The Hammers, Slaven Bilic, di mana stabilitas selama setidaknya satu tahun ke depan adalah  hal terpenting.

Bersama dengan sebagian besar skuad utama musim 2014/15, Bilic memulai pekerjaan barunya pada hari Senin lalu untuk mempersiapkan timnya menghadapi musim kompetisi yang akan datang.

Kebanyakan klub Inggris masih meliburkan pemain – pemain mereka hingga beberapa minggu ke depan tapi tidak untuk West Ham, karena komitmen terhadap UEFA Europa League (UEL), punggawa klub London tersebut harus memangkas waktu liburan mereka.

Co – chairman David Sullivan gambarkan hal ini sebagai ‘mimpi buruk’. Untuk Sullivan dan David Gold, ‘mimpi buruk’ tersebut merupakan hal yang mereka damba – dambakan sejak mengambil alih klub pada tahun 2010 lalu.

Karir kepelatihan Bilic di Inggris dimulai dengan 'mimpi buruk' | Photo: Guardian

Karir kepelatihan Bilic di Inggris dimulai dengan ‘mimpi buruk’ | Photo: Guardian

Bagi Bilic, berlaga di UEL merupakan kesempatan untuk memulai karir kepelatihannya di Inggris secara mengesankan. Namun, jika ‘The Hammers’ meraih hasil buruk di Eropa, hal ini juga dapat berdampak negatif bagi kompetisi domestik mereka.

Meskipun mengakhiri musim lalu di peringkat 12, West Ham United lolos ke UEL 2015/16 melalui jalur fair-play UEFA, memastikan petualangan keluar Inggris untuk pertama kalinya sejak sembilan tahun yang lalu.

Itupun, mereka baru berada di depan gerbang kompetisi, untuk mencapai tahap grup mereka harus memainkan delapan laga dan enam diantaranya dimulai sebelum Premier League dimulai. Jika mereka sukses melewati kualifikasi, babak play – off menunggu dengan sistem kandang dan tandang digunakan.

Babak pertama kualifikasi UEL dimulai pada 2 Juli 2015 mendatang dan West Ham akan bertemu dengan klub asal Andorra, FC Lusitans.

The Hammers juga telah mengatur program pra – musim berdampingan dengan pertandingan di ajang kontinental tersebut guna memberikan latihan kebugaran ekstra bagi pemain yang belum siap beraksi secara kompetitif. Pra – musim juga menjadi antisipasi jika mereka tersingkir dari UEL lebih awal.

Pertandingan pra-musim mereka dimulai dengan melawan Peterborough pada 11 Juli dan kemudian disusul laga persahabatan dengan Southend, Colchester, Charlton, Norwich dan Werder Bremen.

“Ini benar – benar mimpi buruk tapi hal ini menarik, dan menyenangkan.”

“Pra-musim kali ini akan menjadi yang paling bermakna, karena kami mengisinya tidak hanya dengan pertandingan persahabatan, tapi juga kompetitif.”

“Kami tahu akan cukup sulit dan rumit untuk mendapatkan hasil terbaik. Ini mimpi buruk, tetapi apa yang dapat Anda lakukan?” kata David Sullivan kepada Guardian.

Sullivan juga mengatakan bahwa keikutsertaan West Ham United di UEL merupakan awal untuk membangun mimpi mereka yang sebenernya, Champions League.

“Dengan ikut dalam kompetisi ini kami memiliki peluang 1/1.000 untuk mendapatkan tiket Champions League musim berikutnya (2016/17).”

“Peluang kami kecil, namun bukan tidak mungkin.”

“Direksi juga telah memikirkan harga tiket yang realistis serta terjangkau agar para supporter dapat hadir dan membantu klub melawan segala kejangalan.”

Mengingat bahwa West Ham baru saja menyelesaikan musim 2014/15 empat minggu yang lalu, dan jika mereka bisa lolos hingga babak kualifikasi ketiga Europa League, Jadwal pertandingan mereka di Premier League 2015/16 melawan Arsenal harus dimainkan pada hari Minggu atau Senin, berbeda dengan pertandingan lainnya yang kick – off di hari Sabtu.

Selain memanggil skuad utama, mereka juga menarik pemain pinjaman seperti Mauro Zarate, yang menghabiskan musim lalu bersama QPR.

Kesepakatan pemain Argentina tersebut dengan QPR baru berakhir 1 Juli namun West Ham sangat membutuhkan tenaganya karena absennya Enner Valencia,  yang sementara ini tengah menunaikan tugas negara di Copa America. Pemain asal Kolombia tersebut nampaknya juga akan diberi waktu libur tambahan oleh pihak klub.

Setiap pemain baru tidak dapat didaftarkan untuk babak pertama kualifikasi Europa League, sehingga West Ham harus mengandalkan skuad musim lalu hingga hari pendaftaran dibuka.

Pemain dengan penampilan terbanyak musim lalu seperti Stewart Downing, Aaron Creswell dan Adrian belum memulai latihan pada hari Senin ini dan diberi waktu tambahan untuk beristirahat. Mereka tidak menghadiri kamp pra-musim di Irlandia yang diatur oleh Sam Allardyce, pendahulu Bilic.

Ini adalah musim yang penting untuk klub, kepindahan mereka ke Olympic Stadium memastikan direksi klub meminta prestasi lebih kepada tim asuhan Bilic. Pertahankan status Premier League dengan bertengger di papan tengah, petualangan yang berkelanjutan di UEL dan FA Cup menjadi target klub saat ini.

Tidak ada tim telah memenangkan Liga Europa dari babak kualifikasi pertama sejak mengubah nama mereka dari UEFA Cup.  Mereka membutuhkan 23 pertandingan untuk melakukan hal tersebut. Pada 2009, Fulham sukses mencapai final setelah 18 laga, terhitung dari babak kualifikasi ketiga.

Mimpi Fulham pupus di tangan Atletico Madrid | Photo: Daily Mail

Mimpi Fulham pupus di tangan Atletico Madrid | Photo: Daily Mail

Memang, efek knock-on untuk tim Inggris biasanya menghasilkan dampak negatif di kompetisi domestik. Perjuangan yang berat untuk beradaptasi dengan urutan pertandingan Kamis – Minggu.

Dr. Andrew Hill, seorang ahli akademik tentang efek “knock-on” dari University of Leeds, menggambarkan dampak psikologis yang dirasakan anggota klub karena musim yang terlalu panjang.

“Anda bisa berpendapat bahwa memulai musim lebih awal dan memainkan pertandingan lebih banyak dapat mengakibatkan  stres psikologis yang lebih besar.” ,kata Hill.

“Anda harus mempersiapkan lebih banyak pertandingan, berurusan dengan keberhasilan dan kegagalan yang bergantian dalam waktu sekejap.”

“Semakin padat jadwal Anda, potensi mengalami tingkat stres akan menjadi lebih tinggi. Sialnya waktu pemulihan akan lebih sedikit.”

Analisa Dr. Andrew Hill juga senada dengan pernyataan David Sullivan,

“Risiko besar menanti. Secara tradisional tim Inggris yang bermain di kompetisi ini tidak melakukan-nya dengan baik. Tampaknya Inggris tidak bisa bermain dengan baik dengan jadwal Kamis – Minggu.”

Secara finansial, UEL tidak terlalu menguntungkan daripada Liga Champions.

West Ham akan menerima 1,7 juta pounds atau 34,6 miliar rupiah jika mereka mencapai babak penyisihan grup. Mulai fase ini mereka menerima lima miliar rupiah untuk satu kemenangan dan 1,8 miliar rupiah untuk hasil imbang.

Sedangkan jika bermain di Champions League, mereka akan mendapatkan 179,7 miliar rupiah dalam tahapan serupa. Perjalanan keliling eropa akan lebih dinikmati oleh para supporter dibandingkan klub yang tidak mendapatkan pemasukan seberapa dari petualangan mereka.

Menurut Alison Worth, mantan anggota West Ham Supporter Advisory Board yang sekarang sedang menciptakan Asosiasi  Pendukung Independen, kegembiraan bermain di Eropa bercampur dengan perasaan cemas.

“Saya cukup tua untuk mengingat kegembiraan saat WHU berlaga di Eropa dulu, dan saya pikir ajang eropa merupakan pengalaman yang asik untuk para penggemar”, ungkap Worth.

“Tapi kita tidak memiliki skuad yang lengkap pada saat ini, masih ada lubang di beberapa posisi.”

“Ini bisa menyebabkan kejatuhan, itulah kekhawatiran saya.”

“Bermain di Eropa merupakan hal yang menyenangkan, namun ini adalah pedang bermata dua karena kita tahu bahwa kita tidak bisa membiarkan status Liga Premier kami terancam dengan cara apapun. Karena ini saya belum pernah sangat bersemangat seperti beberapa tahun yang lalu”, tutupnya.

West Ham telah menunjukkan upaya serius untuk ajang Europa League 2015/16. Akankah mereka mampu melewati torehan Fulham dengan memenangkan final walau berlaga dari babak pertama kualifikasi ?

Jika hal itu terjadi, dimana mereka akan berdiri di kelasemen akhir Premier League ?

Kita masih mengingat Newcastle United yang cukup istimewa saat bermain di kompetisi kontinental tapi terseok – seok di Premier League, atau Birmingham City yang gagal kembali ke divisi tertinggi Inggris karena bertarung habis – habisan di fase grup UEL.

Perjalanan masih sangat panjang, kita tunggu saja aksi mereka di lapangan!

 

BY: Willibrordus Bintang Hartono / @Obinhartono1

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *