Memahami Fundamental Saham Klub Sepak Bola

Published On 01/07/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Apa yang kira-kira terbesik dalam benak anda jika mendengar kata ‘saham’ ? Uang, finansial, krisis, investasi, dan lain – lain, yang pasti masih berhubungan dengan perekonomian!

Bukankah begitu?

Memang tidak salah, tapi pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana sebuah saham dimainkan pada lingkup sepak bola ? Dalam rangka banyaknya klub tumbang akibat masalah finansial, mari kita kupas hal tersebut!

Apa itu Saham dan Bagaimana Menerapkannya Dalam Sepak bola?

Secara garis besar, saham dapat didefinisikan sebagai nilai pembukuan atas kepemilikan suatu perusahaan yang merupakan bagian dari instrumen finansial.

Selain menerbitkan obligasi, saham juga dibutuhkan untuk modal bisnis utama. Saham merupakan salah satu kendaraan investasi terlaris di dunia setelah properti dan reksadana.

Alasan mengapa saham dijadikan kendaraan investasi yang cukup menggiurkan oleh segelintir pengusaha adalah, karena investasi yang dimiliki oleh saham terukur dan memiliki nilai spekulasi yang rendah. Tingkat likuiditasinya juga tinggi. Hal ini memungkinkan pemilik saham memprediksi waktu yang tepat untuk membeli dan menjual lembaran saham.

Saham biasanya dijual dengan satuan Lot. Dalam satu Lot terdapat kira-kira 500 lembar saham yang harga per lembarnya sesuai performa suatu perusahaan tersebut setiap harinya.

Kalau kalian mengikuti program – program seperti Money Report di stasiun telivisi bisnis seperti Bloomberg, maka angka – angka pada news sticker dengan tanda panah naik atau turun di sebelahnya bukanlah sesuatu yang ganjil. Angka-angka tersebut memperlihatkan harga per lembar suatu saham pada hari itu,  dan setiap perusahaan menjual lembaran saham dengan kuantitas yang berbeda – beda di setiap bursa efek.

Tahukan kalian bahwa klub sepak bola juga merupakan sebuah perusahaan?

Mengapa bisa disebut perusahaan?

Manchester United menjadi contoh kesuksesan bisnis saham sepak bola | Photo: Daily Mail

Manchester United menjadi contoh kesuksesan bisnis saham sepak bola | Photo: Daily Mail

Klub sepak bola adalah perusahaan yang bergerak di bidang olahraga dan hiburan. Bahkan sebagian klub besar memiliki stock fair yang lebih memberatkan di bidang hiburan ketimbang permainan olahraga sepak bola itu sendiri, sebut saja Manchester United PLC (MANU) adalah perusahaan sekaligus klub sepak bola milik pengusaha asal Amerika Serikat, Malcolm Glazer.

Harga saham mereka sekitar $18.23 atau hampir mencapai 250 ribu rupiah per lembar menurut versi bursa saham di New York, Amerika Serikat (per 30 Juni, pukul 22.45 WIB).

Jika sebuah perusahaan properti atau semacamnya mengandalkan suku bunga dan aset sebagai tolak ukur harga saham mereka, sebuah klub sepak bola diukur menggunakan performa, baik dari segi kuantitas ataupun kualitas di dalam ataupun di luar lapangan. Hal ini juga perlu dapat dikategorikan sebagai faktor internal dan eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor Internal yang dapat mempengaruhi harga saham sebuah klub antara lain adalah performa klub itu sendiri baik di liga domestik maupun kejuaraan kontinental.

Ini adalah faktor utama dalam penentuan nilai saham sebuah klub.

“Hampir 37% saham sebuah klub sepakbola ditentukan oleh kondisi di lapangan hijau. Meskipun banyak faktor lain yang mempengaruhi” ,kutip Sverrir Sverrison dari Saxo Bank.

Selain itu ada beberapa faktor internal lain yang mempengaruhi harga saham sebuah klub. Siapa manajer tim tersebut?, bagaimana kinerja Sang manajer ?, dan bagaimana hubungan antara manajer, staff dan pemain ? Hal ini sangat dipengaruhi sekali oleh sorotan media.

Lalu faktor internal lainnya adalah jumlah pemain. Hati-hati dalam menyimpulkan hal ini, belum tentu semakin banyak pemain, saham klub tersebut akan menjadi semakin mahal pula.

Pemain dengan durasi kontrak yang panjang namun memiliki performa yang labil dalam beberapa musim terakhir dapat mencederai harga saham klub. Begitulah salah satu alasan mengapa setiap pemain dinilai di setiap pertandingan, atau sering juga disebut rate tracking.

Rate tracking yang lebih dikenal untuk menganalisa performa seorang pesepakbola juga berpengaruh dari sisi bisnis klub guna menentukan harga saham klub pada awal setiap minggu.

Penentuan nilai saham juga bergantung dengan kualitas permainan klub tersebut. Secara logika, lebih banyak mana kenaikan presentase saham antara FC Barcelona dan Newcastle United dalam dua bulan terakhir?

Ya, jawabannya adalah Newcastle United!

“Bagaimana bisa The Magpies mengalahkan treble winner 2014/15!?” 

Drama di laga terakhir lonjakan harga Newcastle United | Photo: Sports Rediscovered

Drama di laga terakhir lonjakan harga Newcastle United | Photo: Sports Rediscovered

FC Barcelona merupakan klub unggulan di eropa, bahkan dunia. Bukan hal yang luar biasa jika Barcelona bisa memenangkan tiga piala dalam satu musim. Kita tidak akan begitu khawatir jika berinvestasi saham di FC Barcelona. Namun jika melihat Newcastle United, sebuah klub yang hampir degradasi dan berhasil lolos di putaran akhir liga Inggris, ini merupakan hal langka ketimbang FC Barcelona memenangkan multi – piala.

Inilah yang menjadi nilai jual bagi Newcastle United serta menarik investor untuk kembali menaruh uang mereka di klub berlogo kuda laut tersebut.

Kemenangan Newcastle United dalam hal ini tidak membuat harga saham mereka lebih mahal dibanding raksasa asal Katalan tersebut. Kembali lagi kepada kemampuan memprediksi waktu yang tepat untuk membeli dan melepas sebuah saham.

Apa yang dirasakan Newcastle pada akhir musim 2014/15 membuat harganya melonjak, dan akan menghasilkan keuntungan bagi para pemegang saham klub tersebut.

2. Faktor Eskternal

Faktor Eksternal biasanya lebih menilai kualitas kerja sama suatu klub dengan sponsor – sponsor yang mereka gandeng, dan juga hasil penjualan merchendise tentunya.

Apakah yang dinilai dari kerja sama antara klub dengan pihak sponsor ?

Sponsor sebagai penyuntik dana juga mempengaruhi nilai saham sebuah klub. Peran sebuah sponsor dapat dianalisa melalu jumlah dana yang diberikan kepada klub per tahunnya, panjang pendek kontrak, dan profil sponsor tersebut juga mempengaruhi nilai saham klub.

Pemberitaan Laura Barriales sebagai reporter Juventus TV bisa jadi strategi bisnis Nyonya Tua | Photo: Juventus.com

Laura Barriales jadi senjata bisnis Nyonya Tua? | Photo: Juventus.com

Faktor eksternal lain juga datang dari hak siar sebuah pertandingan.

Jangan terburu-buru menyimpulkan, hak siar disini bukanlah dari telivisi – telivisi lokal, melainkan online tv milik klub tersebut. Chelsea TV, Arsenal TV, Juventus TV, sebut saja tv klub kesayangan kalian.

Semakin banyak pelanggan berbayar yang mereka jaring,  semakin banyak pula keuntungan yang diperoleh dan hal ini merupakan stock booster atau penguat nilai saham, meskipun tidak terlalu banyak.

Faktor eksternal memang tidak sebanyak yang internal. Akan tetapi, ini sangat berpengaruh kepada citra suatu klub di dunia bisnis, klub apapun itu.

……..

Setiap klub berhak menentukan apakah saham mereka terbuka atau tertutup untuk publik. Satu hal yang pasti, dia, pemilik saham terbesar akan menjadi sosok yang mendapatkan keuntungan berlipat ganda jika klub meraih kesuksesan, dan harus merogoh kocek paling dalam saat krisis.

Saham memang diperlukan oleh sebuah klub demi melangsungkan roda perekonomian mereka. Satu hal positif, selalu diimbangi dengan yang negatif, pihak klub dan pemegang saham harus berhati – hati dengan value chasm atau perbedaan nilai.

Value chasm adalah kondisi dimana saham sebuah klub menjadi murah dan tidak bisa memproduksi lembaran saham baru, akhirnya rentan untuk mengalami kebangkrutan. Hal ini sangat mungkin terjadi jika adanya eksploitasi berlebihan dari para petinggi.

Jika dianalogikan dengan tubuh manusia, suhu tubuh manusia yang normal sekitar 36 – 37 derajat celcius. Kurang dari 36 derajat celcius, kita sebagai manusia tidak akan bisa bekerja, lebih dari 37 derajat celcius?

Selamat menikmati demam!

Begitu pula sebuah klub sepak bola, ada nilai atau value dan presentase saham tertentu yang harus dipertahankan. Jika kurang dari angka normal, tidak akan ada pasokan dana, andai berlebihan, harga sebuah klub semakin murah akibat eksploitasi. Dua hal ini disebut economic struck dan economic crush.

Terakhir, bagaimana peluang investasi di saham sepak bola?

Sverrir Sverrison | Photo: Google+

Sverrir Sverrison | Photo: Google+

Hal ini sangat tidak disarankan!

Sverrir Sverrison dari Saxo Bank mengatakan, “Jika melihat sejarahnya, kinerja harga saham klub – klub sepak bola cendrung buruk, tapi dengan beberapa pengecualian.”

“Manchester United mungkin bisa kembali menjadi contoh pengecualian tersebut, bersama dengan perusahaan lain yang terdaftar di bursa.”

“Tujuan utama emiten klub bola memang bukan menggenjot laba naik signifikan”. tutup Sverrison.

Ia memiliki alasan yang kuat tentang hal ini, terbukti sejak tahun 2012 lalu, klub – klub mapan sekalipun mengalami kerugian yang cukup telak sehingga beberapa sahamnya harus dijual ke publik, atau dalam bahasa bisnis, melakukan IPO.

IPO adalah singkat dari Initial Public Offering, atau tawaran perdana kepada publik. Klub yang melakukan hal tersebut akan berhadapan dengan risiko tinggi, jika saham mereka tidak terjual dengan cepat, persentase akan terus berkurang. Beberapa klub dapat dianggap sukses disini, seperti Glasgow Rangers yang kinerja sahamnya 0.7% pada bulan pertama mereka di-IPO, lalu menanjak menjadi 275% setahun kemudian.

Tidak sebesar klub Skotlandia tersebut, elang dari Roma, SS Lazio juga mendapatkan keuntungan setelah sebulan di-IPO kinerja saham mereka menginjak angka -18.9%, setahun kemudian melambung menjadi 114.2%.

Sementara raksasa Turki, Galatasaray mengalami penurunan drastis dari -5.8% saat sebulan IPO, setahun kemudian anjlok ke angka -53,2% ; Borussia Dortmund juga mengalami hal serupa, start dengan -14.5%, dan menjadi -47.9% setahun kemudian. Tottenham, Ajax, dan masih banyak lagi klub yang mengalami penurunan tersebut, walaupun tidak separah mereka.

Disinilah bukti ucapan Sverrison, bahkan Glasgow Rangers dan Lazio juga tidak dapat meraih keuntungan penuh karena sudah melewati titik batas, atau economic crush.

Lalu jika Investasi di klub sepak bola kurang menguntungkan, kenapa masih ada yang berani?

Ambisi jadi satu hal, banyak investor yang menaruh uang mereka di sebuah klub sepak bola, karena sebelumnya sudah merasakan keuntungan dari bisnis di industri olahraga. Hal lainnya, kecintaan terhadap klub atau permainan sepak bola itu sendiri.

Sisanya hanya para investor dan Tuhan yang tahu.

JADI SIAPA DIANTARA KALIAN YANG INGIN BERMAIN DI SAHAM KLUB SEPAK BOLA!?

 

BY: Ramadhan Surjoharso

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *