Manchester City Lupa Cara Menanak Nasi

Published On 08/07/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Siapa yang tidak mengenal klub Manchester City ? Setelah merusak susunan classic big four, nama klub dengan warna kebesaran biru langit tersebut berubah menjadi raksasa sepak bola Inggris. Mereka juga sudah dianggap menjadi klub besar eropa, walau belum memiliki prestasi gemilang di ajang kontinental.

Meneliik komposisi squad Manuel Pellegrini saat ini, sebenarnya sah – sah saja jika Manchester City mendapatkan reputasi seperti itu. Kucuran dana dari taipan minyak asal Uni Emirates Arab, Mansoor bin Zayed Al Nahyan yang tak berhenti membuat mereka mampu mendatangkan pemain – pemain kelas dunia dengan harga menjulang.

Gelontoran dana yang melimpah ini membuat Manchester City lupa  cara menanak nasi. Bagi kita nasi adalah makanan utama sehari – hari. Bahkan mungkin banyak yang merasa belum makan jika tidak ada nasi yang masuk ke perut. Untuk dunia sepak bola, nasi sama dengan pemain – pemain akademi.

Joey Barton, hat-trick vs Port Vale 2006/07 | Photo: City Till I Die

Joey Barton, hat-trick vs Port Vale 2006/07 | Photo: City Till I Die

Ya, Manchester City sempaat memiliki beberapa nama tenar yang diorbitkan dari akademi mereka. Pada pertengahan mellinium, The Citizens memperkenalkan kita kepada Wright-Phillips bersaudara, Joey Barton, Michael Johnson dan lain – lain.

Kini akademi hanya sekedar ijazah bagi pemain muda Manchester City. Mereka mungkin bersekolah disana, tapi setelah lulus, akademi rival Manchester United tersebut hanya sebatas hiasan dalam perjalanan karir para pemain.

Padahal akademi Manchester City memiliki rekor yang cukup impresif, menghasilkan pemain – pemain berbakat seperti Daniel Sturridge, Shaun Wright – Phillips dan Micah Richards. Mereka jadi bukti sahih kesuksesan akademi City di era sekarang ini. Mereka jadi bukti sahih kesuksesan akademi menemukan talenta.

Lebih jauh ke belakang, akademi Manchester City sukses memenangkan FA Youth Cup 1986. Piala yang menjadi tolak ukur pemain – pemain muda suatu klub.

Paul Lake, Andy Hinchcliffe, ataupun Steve Redmond akhirnya menjadi tulang punggung tim utama Manchester City di era 90-an. Bahkan dengan komposisi ini, The Citizens yang  masih berstatus sebagai klub gurem sukses menuai kemenangan di derby Manchester.

Paul Lake pemenang FA Youth Cup & Kunci tim senior Man.City | Photo: Manchester Evening News

Paul Lake dari FA Youth Cup jadi Kunci tim senior | Photo: Manchester Evening

Namun sejak kehadiran mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra (2007), mereka seakan menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Manchester City sukses terbang tinggi ke awan, namun lupa daratan dengan membuang pemain – pemain bertalenta hasil didikan akademi.

Tepat setengah tahun yang lalu, 8 Desember 2014, Manchester City mengeluarkan 200 juta pounds atau sekitar 4 triliun rupiah untuk membangun kompleks akademi. Pada awalnya, hal ini diprediksi akan digunakan Manchester City untuk menempa kekuatan pemain muda sesuai standard tim senior mereka, tapi lagi – lagi uang dapat membutakan semuanya.

Musim 2014/15 kemarin, Manuel Pellegrini mempromosikan penyerang muda Spanyol, Jose Pozo dari akademi. Sayangnya, ia gagal membuat manajer-nya terkesan, dan hanya bermain sebanyak tiga kali untuk tim senior.

Pozo diturunkan Manuel Pellegrini pada pertengahan musim ketika lini depan didera badai cedera. Akan tetapi, saat Edin Dzeko, Aguero dan Jovetic kembali pulih, Pozo tak diberi kesempatan. Alih-alih memaksimalkan talenta Pozo, Pellegrini lebih memilih untuk membeli Wilfred Bony dari Swansea City.

Guidetti mencari klub baru untuk bermain reguler | Photo: Express

Guidetti mencari klub baru untuk bermain reguler | Photo: Express

Ironisnya para pemain binaan Manchester City sudah menunjukan kelas mereka saat dipinjamkan ke klub yang tak bisa dianggap remeh. Denayer dan Guidetti meraih gelar juara bersama Celtic, John juga menjadi topskorer klub musim lalu. Sementara Karim Rekik bernasib serupa di Belanda dengan mengenakan seragam PSV.

Penampilan mereka seharusnya cukup untuk membuat Pellegrini mendahulukan pemain akademi, mengingat pihak klub sedang berusaha memenuhi kuota home – grown player dari FA. Bukannya memberikan mereka tempat di tim utama, para pemain tersebut dilego oleh pihak klub.

Denayer dipermanenkan oleh Celtic, Karim Rekik didatangkan Olympique Marseille setelah menyatakan bahwa dirinya bosan dipinjamkan ke PSV, dan John Guidetti yang bersinar saat Euro U-21 beberapa waktu lalu dilepas secara cuma – cuma oleh Manchester City.

Walaupun memiliki akademi bintang lima, Manchester City nampaknya hanya fokus kepada sisi bisnis. Bagaimana talenta – talenta luar biasa yang mereka miliki dapat menghasilkan uang untuk membeli pemain yang sudah matang dan dikenal secara global sehingga ikut menaikan pamor mereka di dunia internasional.

Peraturan FA yang mewajibkan setiap klub memiliki minimal 8 pemain binaan akademi Inggris, nampaknya tidak membuat akademi dengan dana triliunan tersebut menjadi pilihan utama. Manchester City hanya diwajibkan memilik dua pemain lulusan akademi mereka dalam tim, sedangkan sisanya bisa saja membeli pemain – pemain binaan akademi lain, seperti Fabian Delph dari Aston Villa.

Wacana pemilik Man.City pada 2008 terpampang di Etihad Campus | Photo: Daily Mail

Wacana pemilik Man.City pada 2008 terpampang di Etihad Campus | Photo: Daily Mail

Visi yang terpampang yang ada di dinding depan pusat akademi Cang menyatakan “  We are Building a Structure for the future not just a team of all stars” , hanyalah selogan semata melihat Micah Richards, Guidetti, Boyata, Albert Rusnak, Karim Rekik, Emir Huws kini telah dipinang oleh klub lain.

Albert Rusnak menjadi bukti nyata bagaimana Manchester City tidak ingin bersabar dan kesulitan membina seorang pemain. Setelah sukses semasa dipinjamkan ke SC Cambuur, Rusnak kembali ke Manchester hanya untuk mengemas barang miliknya karena ia dijual pihak klub ke klub Eredivisie lainnya, FC Groningen seharga 158 ribu pounds (Tiga juta rupiah).

Setelah bermain apik dan menjadi kunci di Groningen, media – media Inggris sepeti Mirror, mengabarkan bahwa Manchester City ingin memulangkan Rusnak, dan menurut situs Transfermarkt, harga winger Slovakia tersebut sudah sepuluh kali lipat dibandingkan dana yang diterima The Citizens dari Groningen.

Pada bursa transfer musim panas ini, Manchester City mendatangkan talenta muda Turki, Enes Unal dari Bursaspor. Berposisi sebagai penyerang, wonderkid 18 tahun satu ini nampaknya akan berada di bawah bayang – bayang Aguero.

Enes Unal didatangkan dengan dua juta pounds & kontrak 4th | Photo: Express

Enes Unal didatangkan dengan dua juta pounds & kontrak 4th | Photo: Express

Unal juga tidak akan dihitung sebagai binaan Manchester City karena sesuai regulasi, seorang pemain akademi Inggris hanya diberikan kepada mereka yang sudah membela klub sejak berusia 15 tahun.

Hingga kapan mereka memandang sebelah mata produk sendiri ?

Manchester City bukan hanya lupa menanak nasi, mereka bagaikan pemerintah Indonesia yang lebih memilih untuk impor pangan dari negri tetangga walaupun memiliki petani dengan bibit berkualitas dan juga hamparan ladang dari Sabang sampai Merauke.

Pihak klub seakan kehilangan konsep yang menjadi landasan di masa lalu. Di masa depan, jika pemain lulusan akademi seperti John Guidetti, Denis Suarez, Albert Rusnak dan Jason Denayer benar – benar menjadi pemain kelas satu dengan harga puluhan juta poundsterling apakah mereka dapat dikatakan sebagai pemain binaan Manchester City ?

 

BY: Achmad Rezky Sungkar / @achmadrezky

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *