Gajah yang Tak Pernah Punah

Published On 19/09/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

Melihat peta kekuatan sepak bola ASEAN, nama-nama seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan (tentu saja) Indonesia akan muncul sebagai ‘Macan ASEAN’. Bagaimana dengan Australia ? Jedinak dan kawan-kawan baru masuk ke region AFF pada tahun 2013, selain itu tim nasional senior mereka belum pernah bermain di ajang AFF Cup sekalipun.

Namun, di era sepakbola modern ini peta kekuatan di Asia Tenggara perlahan berubah. Filipina bangkit dengan pemain-pemain naturalisasi mereka. Timor Leste mulai mengancam mantan tuan tanah, Indonesia. Sementara Myanmar dan Laos banyak berbenah untuk menghilangkan anggapan “tim penghibur” yang cukup lama melekat pada diri mereka. dengan beberapa faktor.

Ya, penderitaan seseorang bisa menjadi berkah untuk orang lain. Inilah yang terjadi saat negara kita tercinta mendapatkan hukuman dari FIFA. Hal serupa juga dapat dirasakan negeri tetangga, Malaysia dalam waktu dekat.

Akan tetapi, walaupun status raksasa ASEAN  Indonesia ataupun Malaysia mulai dipertanyakan, ada satu negara yang masih konsisten menjaga kedigdayaan mereka di sepak bola Asia Tenggara. Bahkan negara satu ini sudah berani mengincar lingkup yang lebih luas, ASIA.

Pernah menang di Piala Dunia | Photo: FIFA

Pernah menang di Piala Dunia | Photo: FIFA

Siapa lagi kalau bukan Thailand. Negara yang sudah berkali-kali menjuarai AFF Cup. Tak masalah kelompok umur ataupun , kini mulai menggeliat di ranah sepak bola wanita.  Terakhir mereka ikut tampil dalam ajang Piala Dunia Wanita di Kanada. Pada ajang tersebut, mereka berhasil menang tipis 3-2 melawan Pantai Gading.

Sebenarnya, pada periode 80 hingga 90-an, Thailand sudah menjadi salah satu kekuatan terpenting yang dimiliki ASEAN.  Di masa tersebut juga Witthaya Laohakul menjalani debut sebagai pemain ASEAN pertama di Eropa. Lebih tepatnya bersama Herta Berlin (1979-1981).

Namun Sang Gajah Putih -sebutan bagi Thailand baru merasakan gelar prestisius mereka setelah menjuarai Tiger Cup (sekarang AFF Cup) 1996. Saat itu mereka memiliki berbagai pemain bintang seperti Kiatisuk Senamuang, Worawoot Srimaka, dan Netiphong Srithong-In sehingga dijuluki “Tim Impian”.

Beralih ke era sepak bola modern. Thailand mulai merajai sepakbola ASEAN setelah beberapa kali berebut singgasana dengan Singapura di AFF Cup. Meskipun prestasi mereka sempat mengalami penurunan dratis di bawah kendali mantan pemain Manchester United Bryan Robson. Pemilik dua gelar Premier League tersebut gagal mengantarkan Thailand lolos dari fase grup AFF Cup setelah imbang dengan Malaysia dan Laos, serta dikalahkan Indonesia, 2-1 dengan dua gol Bambang Pamungkas dari titik putih (82′ & 90+’).

Dominasi Gajah Putih | Pic: Wikipedia

Dominasi Gajah Putih | Pic: Wikipedia

Namun satu kegagalan tidaklah membuat Gajah Putih punah. Hal itu terlihat dari gambar di atas, Thailand mendominasi segala ajang di Asia Tenggara. Sialnya, pada AFF Women U-16, mereka kalah dari Australia dengan skor sangat telak 8-0.

Selain pencapaian tim nasional, prestasi klub-klub thailand di kancah Asia juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Buriram United adalah salah satu contoh terbaru. Klub berjuluk The Thunder Castle ini adalah salah satu klub ASEAN yang berhasil mematahkan fakta klub-klub ASEAN selalu kesulitan ketika bermain melawan klub-klub Asia Timur di AFC Champions League.

Pada AFC Champions League 2013 silam, Buriram United mengalahkan klub Australia, Brisbane Roar. Masuk ke dalam grup E bersama Jiangsu Sianty (Tiongkok), Vegalta Sendai (Jepang), untuk menemani FC Seoul (Korea Selatan) sebagai wakil grup di 16 besar. Petualangan mereka berakhir di fase delapan besar setelah tumbang dari klub Iran, Esteghlal dengan aggregate 3-1.

Patahkan mitos | Photo: Youtube

Patahkan mitos | Photo: Youtube

Prestasi yang ditorehkan sepak bola Thailand tak lepas dari andil FAT selaku asosiasi sepak bola Thailand. Mereka berhasil mengelola sepakbola Thailand dengan baik, meskipun beberapa bulan lalu Sang presiden, Worawi Makudi terjerat kasus korupsi dan harus menetap di dalam jeruji besi. Terlepas dari hal itu, kompetisi di Thailand terus berjalan tanpa konflik.

Jika saja para penguasa  sepak bola Indonesia belajar dari Thailand..

Mungkin akan ada tulisan serupa seperti ini tentang Indonesia, di negara-negara ASEAN lainnya.

Mungkin.

 

 

Penulis: Imam Santoso / @idsantos_94

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *