Tak Ada Jalan Pintas di Kota Cahaya

Published On 16/11/2015 | By Kontributor Medio Club | History

Jika membicarkan tentang sepak bola di Eindhoven, klub para pekerja Phillips, PSV, tentu menjadi hal pertama yang muncul di benak kita semua, namun tim yang saat ini dilatih oleh mantan gelandang tim nasional Belanda, Phillip Cocu bukanlah yang satu-satunya di kota tersebut.

106 tahun silam, tepatnya 16 November 1909, sebuah klub sepak bola dibentuk sebelum PSV lahir, dan nama mereka adalah FC Eindhoven. Mereka mungkin tidak pernah meraih kesuksesan seperti saudara sekotanya, namun, layaknya peran pelengkap dalam sebuah film, FC Eindhoven juga memiliki perjalanan menarik yang layak untuk diceritakan.

Berdiri empat tahun sebelum PSV, FC Eindhoven selalu berada di bawah bayang-bayang saudara mudanya tersebut. Meski merasakan sukses di awal tahun 1950an, klub dengan julukan Blauw-Witten (Biru-Putih) ini lebih banyak menghabiskan waktu menyaksikan tetangga mereka menjelma menjadi klub raksasa di Belanda.

Berdiri dengan nama EVV (Eindhovense Voetbal Vereniging), klub yang terbentuk berkat merger antara Sparta Eindhoven dan Eindhovia memulai petualangan mereka di Brabantse Voetbalbond, liga regional setempat.  EVV akhirnya berhasil promosi ke divisi dua pada tahun 1913, tepat pada tahun lahirnya PSV.

Delapan tahun kemudian, Sport Gastel ikut bergabung dengan EVV, dan mereka-pun menambahkan nama kota Eindhoven di belakang EVV. Dengan nama baru, EVV Eindhoven mulai menjelma menjadi kekuatan di persepakbolaan Belanda, julukan “De schrik van het zuiden” atau “Yang menakutkan dari selatan” diberikan karenanya.

BACA JUGA: 5 PR PSV

Setelah 28 tahun menggeluti dunia sepak bola, pada 1937, EVV Eindhoven berhasil meraih trofi pertama mereka, KNVB Beker -yang lazim disebut Piala Belanda-, setelah mengalahkan De Spartaan dengan skor 1-0 pada final yang dilangsungkan di Amsterdam.  Piala ini menjadi salah satu kebanggaan EVV, karena rival sekota mereka, PSV butuh 37 tahun untuk mengangkat sebuah piala.

Memasuki pertengahan 1940 sampai dengan awal 1950-an merupakan golden era bagi EVV Eindhoven. Meski situasi keamanan dikacaukan oleh Perang Dunia kedua dan pendudukan Nazi di Belanda, EVV Eindhoven tetap menjadi unggulan di divisi tertinggi liga Belanda saat itu.

Pada masa-masa ini pula, rivalitas EVV Eindhoven dan PSV Eindhoven mencapai puncaknya dan memasyhurkan “Lichstad Derby” alias “Derbi Kota Cahaya”, istilah yang mengacu pada maraknya pabrik korek api di Eindhoven sejak abad ke-19.

Saat itu, liga Belanda tidak menganut sistem kompetisi penuh seperti sekarang ini, melainkan kompetisi yang dibagi dalam empat divisi, Eerste Klasse A, Eerste Klasse B, dan seterusnya. Juara setiap divisi akan bertemu di akhir musim, dan menjalani babak play-off untuk menentukan juara liga.

Pada musim 1952/53, EVV Eindhoven mendapat kesempatan besar untuk menyamai prestasi PSV yang dua musim sebelumnya menjuarai Liga Belanda. EVV Eindhoven berhasil menjuarai Eerste Klasse D dan berhak tampil dalam babak play-off bersama Vitesse, Sparta Rotterdam, dan Racing Club Heemstede. Sayang, pada pertandingan penentuan melawan Racing Club Heemstede, EVV Eindhoven harus takluk melalui gol di babak extra time.

EVV Eindhoven 1953/54 | Photo: Wikimedia

EVV Eindhoven 1953/54 | Photo: Wikimedia

Kesempatan datang lagi musim berikutnya, kali ini EVV Eindhoven bertemu dengan PSV Eindhoven, DWS, dan DOS -cikal bakal klub FC Utrecht sekarang-. Tidak mau mengulangi kesalahan musim sebelumnya, EVV Eindhoven berhasil menjuarai liga dengan meraih delapan poin dari enam pertandingan. Inipun menjadi satu-satunya gelar Liga Belanda yang diraih hingga kini.

Kesuksesan EVV Eindhoven pada 1953/54 tak lepas dari peran trio tim nasional Belanda, Noud van Melis, Frans Tebak, dan Dick Snoek yang juga  memperkuat tim nasional Belanda. Namun, mantan pemain PSV, Jan Louwers  menjadi sosok yang dipilih EVV untuk mendapatkan kehormatan menjadi nama stadion mereka sejak tahun 1994.

EVV Eindhoven kembali berhasil menjuarai Eerste Klasse D di musim professional pertama sepak bola Belanda, sialnya penampilan mereka di turnamen penenentuan hanya menghasilkan posisi juru kunci. Beralihnya Liga Belanda menjadi profesional ternyata tidak mampu diimbangi oleh EVV Eindhoven, di musim 1956/57, EVV Eindhoven degradasi ke Eerste Divisie, atau Divisi Dua.

Kini sistem kompetisi penuh sudah berlaku di sepak bola Belanda, divisi utama mereka juga melakukan pergantian nama menjadi Eredivisie, seperti yang kita kenal saat ini.

Kembali ke divisi dua, mimpi buruk EVV Eindhoven terus berlanjut, pada musim 1968/69 mereka terdegradasi lagi ke Tweede Divisie, atau Divisi Tiga. Memang, EVV Eindhoven berhasil kembali ke Eerste Divisie dua musim kemudian, dan dilanjutkan dengan promosi ke Eredivisie pada musim 1974/75, namun, EVV Eindhoven hanya bertahan hingga 1976/77.

Lebak Bulus - Kota lebih jauh | Photo: Google Maps

Lebak Bulus – Kota lebih jauh | Photo: Google Maps

Turun dari liga tertinggi Belanda, klub ini akhirnya pecah menjadi dua, EVV Eindhoven memilih berada di jalur amatir, sementara SBV Eindhoven, yang kelak berubah nama menjadi FC Eindhoven.

Semenjak berpisah dengan EVV, FC Eindhoven tidak pernah kembali ke Eredivisie, “Lichstad Derby” akhirnya menguap. Bagi FC Eindhoven rival mereka saat ini bukanlah PSV, melainkan Helmond Sport, kota mereka berbeda, namun begitu dekat.

Bahkan jarak antara Lebak Bulus dan Stasiun Kota lebih jauh dibanding  Eindhoven – Helmond.

Rivalitas bukanlah segalanya di sepak bola, hilangnya perseteruan antara FC Eindhoven dengan PSV mendatangkan kesempatan bisnis di antara dua klub.

FC Eindhoven akhirnya menjadi feeder club atau klub satelit PSV, tercatat nama-nama seperti Jelle ten Rouwelaar, Sepp de Roover sampai Otman Bakkal pernah mengenakan seragam Eindhoven sebelum menembus tim utama The Lempkes. Namun, kerja sama ini tak terjadi lagi sejak musim lalu karena Jong PSV -tim reserves PSV- berada di divisi yang sama dengan FC Eindhoven.

Tidak seperti PSV yang didukung perusahaan elektronik raksasa, klub yang saat ini dilatih oleh Mitchell van der Gaag ini sangat akrab dengan krisis finansial.

Saatnya membalas cinta mereka | Photo: Eindhoven 1909

Saatnya membalas cinta mereka | Photo: Eindhoven 1909

Pada 2009, lisensi klub hamper ditanggalkan oleh KNVB karena kasus ini, akan tetapi, berkat dukungan dari fans, dewan kota bahkan PSV, kerja keras presiden Ed Creemers mempertahankan klub terbayar lunas. FC Eindhoven akhirnya masih bisa berlaga di kompetisi profesional hingga saat ini.

FC Eindhoven mungkin tidak dikenal di seluruh dunia layaknya PSV, mereka bukan hal pertama yang muncul di kepala kita saat membicarakan bagian Selatan Belanda, namun klub ini mengajarkan salah satu hal terpenting dalam hidup, tanggung jawab!

Mereka bisa saja membiarkan hutang menjerumuskan klub kembali ke sepak bola amatir, di mana FC Eindhoven bersama EVV  mendapatkan masa kejayaan mereka. Mereka juga bisa menyerah, bubarkan klub, dan membentuk yang baru dengan mengandalkan kekuatan masa lalu seperti banyak klub di Italia, tapi itu bukan pilihan di Eindhoven, karena di ‘Kota Cahaya’ tak ada jalan pintas.

Tanggung jawab akan pilihan mereka untuk lepas dari EVV dan berdiri sebagai klub professional memenangkan hati publik. Tidak mungkin supporter FC Eindhoven memilih untuk menjadi minoritas di kotanya sendiri, mustahil seorang kakak mau berada di bawah bayang-bayang adiknya kalau bukan cinta alasannya.

Kini pihak klub sedang berusaha membalas rasa cinta supporter dengan mengincar satu tempat di divisi tertinggi Belanda, karena bagi mereka, tidak ada yang lebih menghangatan hati dari sinar rivalitas kota cahaya.

BY: Lalu Hanif Fadly / @bigpad

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *