ANALISA: Kenapa Selalu 4-2-3-1 ?

Published On 20/09/2015 | By Kontributor Medio Club | Opini Ngehek

4-2-3-1.

Skema permainan itulah yang kini menjadi idola berbagai manajer dalam meracik tim mereka. Namun apa sebenarnya yang menjadi alasan berbagai klub seperti Borussia Dortmund, Manchester United, ataupun Chelsea mengubah pola permainan mereka ke dalam formasi ini ?

Alasan yang paling kasat mata mungkin adalah fleksibelitas 4-2-3-1 di dalam lapangan. Hal ini terlihat dari gaya permainan yang dilakukan oleh Manchester United dan Chelsea musim ini. Louis van Gaal sebelumnya mencoba beberapa formasi seperti 3-4-1-2 dan 4-3-3, lalu Mourinho yang terkenal dengan 4-3-3 miliknya mulai menaruh 4-2-3-1 di atas kertas.

Ya, 4-2-3-1 sering kali hanyalah menjadi gambaran yang tertera di setiap kertas laporan pertandingan. Pada kenyataannya, pola ini dapat berubah sesuai keinginan manajer di lapangan, dan 4-3-3 menjadi perubahan yang paling sering terjadi sejauh ini.

4-2-3-1 | Photo: Wikipedia

4-2-3-1 | Photo: Wikipedia

Seperti yang dapat kita lihat di gambar, 4-2-3-1 sebenarnya memiliki penempatan yang sama dengan “Attacking 4-3-3”. Perbedaannya adalah di posisi sayap. Jika “Attacking 4-3-3” menganut pola permainan menyerang menggunakan dua winger yang dengan setia memeluk garis lapangan, 4-2-3-1 mengubah mereka menjadi seorang gelandang serang.

Mengapa hal itu bisa terjadi ?

Tututan zaman mengharuskan setiap pemain dapat bermain setidaknya dalam dua ataupun tiga posisi sekaligus. Sebut saja nama-nama tenar seperti Gareth Bale, Cristiano Ronaldo, hingga Lionel Messi. Pada awalnya mereka ada seorang winger –khusus Bale, berawal sebagai bek kiri-, namun melihat produktifitas ketiga pemain tersebut, mereka mulai sering ditempatkan di tengah. Pemain terakhir yang merasakan hal ini adalah Theo Walcott di Arsenal.

Lalu apa hubungannya dengan perubahan winger menjadi gelandang serang ? Hal yang ditunjukan ketiga pemain top dunia tersebut membuat para winger, mulai meninggalkan sisi lapangan, dan mencoba menusuk masuk ke kotak penalti. Kebiasaan tersebut merubah ‘winger’ menjadi ‘inside forward’. Posisi ini sangat identik pada sosok Si kaki kaca, Arjen Robben.

Dengan memiliki dua sayap yang berani menusuk ke dalam, serta bek yang sering kali melakukan overlapping, penyerangan tim akan sangat bertumpu pada kecepatan, dan ketika mereka kehilangan bola saat menyerang, ada dua sosok pemain jangkar yang siap melambatkan lawan sembari menunggu rekan-rekan mereka kembali.

Ini mungkin yang menjadi alasan Jose Mourinho mendepak Juan Mata. Gelandang asal Spanyol tersebut tidaklah secepat Eden Hazard, Schuerlle, atau bahkan Willian. Saat diposisikan sebagai gelandang tengah, ia juga terlalu ofensif, sehingga tidak sesuai dengan keinginan ‘The Special One’.

Menjadi salah satu formasi yang paling sering digunakan saat ini, 4-2-3-1 bukan tanpa kelemahan. Berikut adalah nilai tambah dan kurang dari formasi yang terkadang membuat kita bosan melihatnya:

Kelebihan

  • Ke-empat pemain bertahan (Bek)  menutup bidang lebar lapangan dengan seimbang. Hal ini memungkinkan pemain wing-back untuk bantu menyerang atau overlapping.
  • Mudah diadaptasi sesuai komposisi tim.
  • Dua gelandang tengah akan disiplin menjaga kestabilan tim, serta membantu pertahanan saat situasi genting.
  • Gelandang serang dapat bermain leluasa dan bertukar posisi dengan pemain-pemain yang berada di sisinya.
  • Lima gelandang membuat memastikan penguasaan bola yang cukup untuk membangun serangan dengan variasi-variasi yang ditentukan.
  • Semua lini berperan dalam menyerang maupun bertahan. Bahkan terkadang lini kedua akan menggantikan Sang penyerang sebagai sosok paling produktif di lapangan.

Kelemahan/Weaknesses

  • Terisolir-nya penyerang tunggal. Namun hal ini bisa diatasi dengan merubah peran striker sebagai target man dalam post-play ataupun menjadi false nine.
  • Hilangnya nilai umpan lambung. Sama seperti poin pertama, akibat terisolirnya Sang striker, umpan-umpan tinggi ke kotak penalti menjadi begitu mudah dinetralisir oleh pertahanan lawan.

Alasan utama muncul 4-2-3-1

  • Adanya tuntutan bagi para bek sayap untuk ikut membantu penyerangan secara konstan.
  • Keseimbangan menjadi alasan mengapa formasi ini digunakan berbagai tim. Para pengguna formasi ini akan memiliki enam pemain dengan fokus bertahan, dan juga enam pemain saat menyerang.
  • Semakin krusial-nya peran lini kedua, terutama para inside forward.

Cukup ? Atau masih butuh alasan lain untuk membuat kalian percaya bagaimana 4-2-3-1 begitu efisien walaupun memiliki beberapa kelemahan ?

Mungkin ini dapat menjadi penutup yang pas untuk melihat alasan utama, mengapa formasi 4-2-3-1 menjadi panutan utama di berbagai tim… Jeda internasional!

Saat jeda internasional, hanya sedikit waktu bagi setiap pemain berlatih bersama sebelum membela negara mereka, namun dengan 4-2-3-1, setiap dari mereka dengan mudah diposisikan untuk menutup setiap lini di rumput hijau.

Bulat: 4-2-3-1 ; Garis: 4-4-2 | Pic: Paint

Bulat: 4-2-3-1 ; Garis: 4-4-2 | Pic: Paint

Dari gambar di atas, terlihat bagaimana 4-2-3-1 berhasil menutup setiap daerah dengan setiap pemain tidak berjarak  terlalu jauh. Berbanding terbalik dengan 4-2-2 yang sekian lama menjadi skema utama.

Semoga dengan tulisan ini, kita dapat menghargai, walaupun bosan, setidaknya kita mulai menghargai keberadaan 4-2-3-1 di berbagai tim sepak bola.

 

 

Penulis: Achmad Rezky Sungkar / @achmadrezky

Like this Article? Share it!

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *